Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #2

Sinyal Redup

Langkah kaki laki-laki berjaket hitam lusuh itu terhenti di depan gerbang besi SMA Nusa Bangsa. Adnan, pemuda berbadan jangkung dengan kulit sawo matang yang sedikit pucat, menyapu pandangannya ke arah halaman sekolah. Pagi baru saja berganti siang. Puluhan siswa berseragam putih-abu-abu berhamburan keluar dari gedung berlantai tiga itu, mengisi udara dengan gelak tawa dan riuh obrolan.

Adnan mengusap tengkuknya yang kaku. Beberapa jam lalu, lembar pengesahan skripsi di tangannya berhasil membubuhkan tanda tangan sang dosen. Kelulusan sudah di depan mata. Beban akademis yang selama bertahun-tahun menghimpit pundaknya mendadak terangkat. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, pemuda berkantung mata tebal itu bernapas lega. Ia memutuskan membatalkan jadwal mengajar les siangnya khusus hari ini. Laki-laki berambut ikal berantakan itu ingin memberikan kejutan pada adik satu-satunya, menjemput Maya langsung di depan sekolah dan mengajaknya makan di warung bakso kesukaan gadis itu.

Mata Adnan yang redup berbinar mencari sosok yang ditunggu. Di antara kerumunan siswa yang berhamburan, pandangannya tertuju pada satu titik.

Di sudut dekat tiang bendera, seorang remaja perempuan bertubuh kurus dengan seragam agak kebesaran berjalan menunduk. Gadis berambut panjang yang dikuncir kuda itu memeluk tas ranselnya erat-erat di dada, seolah benda itu adalah tameng pelindung dari dunia luar. Posisinya agak jauh di belakang rombongan siswa lain.

“Maya!” panggil Adnan sambil melambaikan tangan di luar gerbang.

Remaja perempuan berwajah tirus itu tersentak. Kepala Maya mendongak seketika. Mata bulatnya berkedip cepat saat mendapati sosok pemuda berpostur tinggi yang melambaikan tangan ke arahnya. Bukannya tersenyum girang seperti biasanya, ekspresi gadis beralis tipis itu justru menyajikan kebingungan yang bercampur dengan kepanikan samar.

Maya mempercepat langkah kakinya, menghampiri pemuda berkulit sawo matang itu dengan menyelinap di antara celah kerumunan.

“Abang? Kok ada di sini?” tanya gadis bermata jernih itu dengan nada suara bergetar pelan. Jemari tangannya meremas tali ransel makin kuat.

“Abang bentar kagi wisuda, dek!” seru Adnan sambil memamerkan map bening berisi kertas berstempel kampus. Laki-laki berusia 22 tahun itu tersenyum lebar, menyipitkan matanya yang kelelahan. “Jadi, khusus hari ini Abang libur ngajar bimbel. Kita makan bakso Pak Kumis ya?”

Sebuah senyuman tipis berusaha dipaksakan oleh gadis berbibir pucat itu. Maya mengangguk pelan, memperlihatkan lesung pipit samar di pipi kirinya. “Alhamdulillah …. Selamat ya, Bang. Yaudah, yuk.”

Namun, Adnan bukan laki-laki buta. Pemuda jangkung itu menangkap ada yang aneh dari gestur adiknya. Maya tidak ceria seperti di rumah, melainkan sedikit mengekor di belakang. Ketika sebuah mobil minibus hitam melintas membelah jalanan depan sekolah dan membunyikan klakson nyaring, gadis berpipi tirus itu mendadak melompat kecil dan bersembunyi tepat di balik punggung lebar Adnan.

Lihat selengkapnya