Malam makin merambat tua, menyisakan derak kayu kontrakan yang memuai disapu angin malam. Lampu gantung di meja makan berkedip dua kali sebelum akhirnya meredup, memancarkan cahaya kekuningan yang muram. Adnan masih duduk membeku di kursi kayu, menggenggam ponsel tuanya yang telah menggelap. Jawaban meremehkan dari wali kelas adiknya tadi terus berdengung di telinganya bagai dengung lebah yang mengganggu.
Pemuda itu bangkit berdiri. Langkah kakinya hampir tidak bersuara saat melangkah mendekati pintu kamar Maya. Ia menempelkan telinganya pada daun pintu tripleks yang dingin.
Hening. Tak ada suara gesekan selimut atau derap langkah. Hanya ada deru napas teratur dari dalam, menandakan sang adik telah lelap menjelajah alam mimpi.
Adnan memegang gagang pintu berbahan seng. Ia memutarnya perlahan dengan kehati-hatian ekstra. Klek. Pintu terkuak tanpa menimbulkan cicitan engsel.
Dengan mengandalkan pendar cahaya temaram dari luar, pemuda berkulit sawo matang itu menyelinap masuk. Kamar berukuran dua kali tiga meter itu beraroma minyak kayu putih dan kertas tua. Di sudut ruangan, sebuah kasur busa terhampar di lantai. Remaja perempuan berambut panjang itu meringkuk di bawah selimut lusuh bertotol merah, tampak begitu kecil dan rapuh di tengah gulita.
Adnan berjongkok di samping pemuda kecil itu, mengusap pelan poni yang menutupi dahi adiknya. Wajah tirus Maya terlihat begitu lelah, bahkan di dalam tidurnya sendiri, alis tipis gadis itu terkadang bertaut seolah sedang bertarung dengan mimpi buruk.
Mata Adnan yang redup bergerak menyapu isi kamar. Di atas meja belajar kayu yang catnya sudah mengelupas, tumpukan buku pelajaran tersusun rapi. Namun, ada satu benda yang mencuri perhatiannya. sebuah buku bersampul tebal warna hitam kusam mencuat dari balik lipatan tas sekolah Maya yang setengah terbuka.
Adnan penasaran, buku itu tidak seperti buku pelajaran Maya biasanya. Jemari panjang Adnan terulur merengkuh buku tersebut. Adnan menyembunyikan buku itu di balik jaketnya, lalu merangkak mundur dan menutup kembali pintu kamar adiknya tanpa suara.
Adnan duduk di meja makan dapur. Dibawah pendar lampu neon yang hampir putus, laki-laki berjaket hitam itu meletakkan buku bersampul kusam tadi. Ia menarik napas panjang sebelum membuka halaman pertama.
Tulisan tangan Maya yang rapi dan tegak menyapa matanya. Halaman-halaman awal hanya berisi catatan harian biasa, keluh kesah tentang tugas sekolah, kerinduan pada mendiang orang tua mereka, dan rasa bangganya memiliki seorang abang yang gigih. Tetapi makin ke belakang, pola tulisan tangan itu berubah. Garis-garis hurufnya tak lagi teratur, penuh dengan coretan keras dan tekanan pena yang menembus kertas.
Di halaman berikutnya, Adnan mendapati tulisan yang berada di tengah-tengah kertas kosong.
"Menjadi pintar juga ternyata neraka."
Beribua pertanyaan menyerangnya secara bersamaan.