Beberapa minggu berlalu. Hari yang selama ini diimpikan Adnan akhirnya tiba. Di gedung serbaguna kampus yang megah, Adnan berdiri tegap mengenakan toga dan selempang Cum Laude. Ijazah dan gelar Sarjana Pendidikan Matematika resmi berada di tangannya. Jerih payahnya memeras keringat dari pagi hingga subuh selama empat tahun berturut-turut seolah terbayar tuntas.
Tidak ada perayaan meriah, tidak ada pelukan hangat, tidak ada foto-foto kenangan, tidak ada teman yang datang, karena Adnan tidak sedekat itu sama teman-teman kuliahnya, terutama teman kelasnya. Adnan terlalu sibuk dengan dunia sendiri, sampai melupakan hal paling krusial dalam kehidupan menurut sebagian banyak orang, yaitu hubungan pertemanan.
Adnan berpikir kemegahan dan keistimewahan yang luar biasa adalah keluarga. Meskipun beberapa kali Adnan melihat atau mendengar konflik keluarga yang begitu kompleks, tapi dia selalu percaya bahwa di dalam sebuah keluarga, seseorang sangat bisa menjadi dirinya sendiri.
Di antara riuh kebahagiaan para wisudawan lain yang tertawa lepas, berswafoto bersama keluarga besar mereka, dan menerima karangan bunga penuh warna, Adnan hanya berdiri sendirian di sudut halaman kampus. Matanya menyapu sekeliling, menyaksikan momen manis saat seorang ayah merangkul bangga putranya, atau seorang ibu yang menangis haru memeluk putrinya. Bagi mereka, hari itu adalah gerbang menuju masa depan yang gilang-gemilang.
Hati Adnan sedikit terhibur melihat suasana romantisasi sepasang bapak dan anak, sepasang ibu dan anak, bahkan sepasang istri dan suami yang sedang memeluk erat putra putrinya di tengah lapangan hijau di sana. Meskipun sempat terbersit dalam benak Adnan, pada kehidupan yang hanya sekali ini, kenapa dia tidak diperkenankan untuk merasakan kehangatan seperti itu.
Maya yang hari itu sangat ia harapkan hadir untuk menyaksikan pencapaian terbesar kakaknya, menolak ikut sejak pagi hari dengan alasan kurang sehat. Pun, Adnan tidak pernah memaksakan siapapun untuk selalu ada atau untuk selalu hadir pada hari-hari di mana ia seharusnya dirayakan. dirayakan atau tidaknya, hari itu tetap berjalan, waktu tetap habis, dan hidup terus berlanjut. Kalau Adnan hanya sibuk menuntut kehadiran semua orang, ia bahkan tidak bisa mengenali kehadiran Tuhan lewat karangan toga, jubah wisuda, dan gelar yang tidak semua orang mampu mendapatkan hal itu.
Kadang hampir semua orang hanya fokus pada indikator kebahagiaan berdasarkan pendefinisian mayoritas. Sampai lupa berbahagia lewat hal-hal kecil.
Senyuman Adnan memudar saat menatap lembar ijazah berstempel emas di tangannya. Ia masih mempertimbangkan apakah lembar ijazah itu yang akan menjadi senjata untuk melumpuhkan orang-orang yang telah berani merenggut kebahagiaan adiknya, juga dirinya. Di sisi lain, jika mengingat kembali tulisan-tulisan Maya, dia lebih tersiksa setengah mati.
Maya tidak pernah lagi menjadi adik perempuan yang ceria atau menyambutnya di depan pintu saat ia pulang kerja. Setiap kali pulang sekolah, gadis bertubuh ringkih itu langsung melangkah masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia tidak pernah lagi keluar untuk sekadar mengobrol, membantu memasak, atau menonton televisi bersama. Maya hanya melangkah keluar kamar seperlunya saja, yaitu ketika perutnya lapar untuk mengambil makanan yang disiapkan Adnan, atau saat hendak menuju kamar mandi. Itu pun dilakukan dengan terburu-buru dan kepala menunduk, seolah menghindari tatapan mata siapa pun yang ada di sekitarnya.
Adnan mencoba berulang kali mengajak adiknya bicara, mengetuk pintu, atau membelikan makanan kesukaan Maya. Seperti biasa, respon yang ia dapatkan hanyalah gumaman singkat atau helaan napas dari balik pintu tripleks yang terkunci.