Langkah kaki bermuatan tekad itu mengetuk lantai keramik koridor SMA Nusa Bangsa. Pagi itu, Adnan tidak lagi mengenakan jaket lusuh yang beraroma keringat dan sisa-sisa bubuk kopi warkop. Pemuda berpostur jangkung itu tampil dalam balutan kemeja putih lengan panjang yang disetrika licin, celana kain hitam tajam, dan tampilan sepatu pantofel kulit yang mengilap disapu cahaya matahari pagi. Kacamata berbingkai tipis bertengger manis di pangkal hidungnya, menyamarkan lingkar hitam di bawah matanya sekaligus membentuk impresi seorang pendidik muda yang cerdas, sopan, dan amat berdedikasi.
Peluang yang ia tunggu-tunggu hadir lebih cepat dari perkiraannya. Dua hari lalu, beredar kabar bahwa Pak Hendra, wali kelas 11-A yang pernah meremehkan penderitaan Maya, secara mendadak mengajukan pensiun dini akibat gangguan kesehatan berat yang menyerangnya tiba-tiba. Sekolah bergengsi itu kebingungan mencari guru Matematika pengganti yang bersedia memegang Kelas 11-A di tengah semester.
Beruntungnya, di sekolah ini tidak ada yang tahu, bahwa Adnan adalah abang Maya. Pak Hendra pun hanya sekadar tahu nama saja, tidak dengan wajah. Untuk teman-teman maya lainnya, hanya sekilas melihat sehari waktu Adnan datang menjemput maya. Itu pun, pasti mereka sudah lupa dengan tampilan baru Adnan yang terlihat lebih rapi, dan gaya rambut selayaknya seorang guru teladan. Bagi Adnan, ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah jalan yang dibukakan takdir untuknya.
Di dalam ruang Kepala Sekolah yang berpendingin udara dingin, Pak Gunawan, seorang laki-laki paruh baya berambut uban dengan kacamata tebal, ia menatap lembar ijazah dan transkrip nilai milik Adnan dengan mata membelalak heran.
“Lulusan tercepat dan terbaik dengan predikat Cum Laude?” Pak Gunawan membetulkan letak kacamatanya, menatap pemuda berkulit sawo matang di hadapannya dari atas ke bawah. “Anda yakin mau mengajar di sini, Mas Adnan? Dengan kualifikasi seindah ini, anda bisa dengan mudah diterima di sekolah swasta internasional dengan gaji tiga kali lipat.”
Adnan menyunggingkan senyum tipis, sebuah ukiran bibir yang begitu sopan dipoles dengan sangat sempurna.
“Saya ingin mengabdi di sekolah negeri, Pak,” ujar Adnan dengan suara berat, tenang, dan tertata rapi. “Saya mendengar Kelas 11-A sedang kehilangan wali kelas. Saya merasa terpanggil untuk membimbing mereka. Bukan hanya sekadar mengejar target akademis, tetapi juga membentuk karakter mereka agar menjadi pribadi yang disiplin, jujur, dan tahu cara menghargai sesama.”
Pak Gunawan tertawa pelan sambil menepuk-nepuk lembaran berkas di atas meja kayunya.
“Luar biasa! Pendidikan karakter adalah hal yang sangat kami butuhkan saat ini, Mas Adnan,” sahut Pak Gunawan dengan nada lega yang amat kentara. “Harus Saya akui, Kelas 11-A itu sedikit memiliki dinamika yang cukup rumit, baik di lingkungan sekolah ini maupun di internal keluarga mereka. Pak Hendra agak kewalahan mengatasi anak-anak di sana, terlebih beberapa di antaranya berasal dari anak pejabat dan tokoh berpengaruh di Dinas Pendidikan, kesehatan, juga pemerintah daerah setempat, seperti Reno dan kawan-kawannya. Tapi Saya yakin, jiwa muda dan ketegasan anda bisa membawa perubahan.”
Adnan merapatkan kedua tangannya di atas pangkuan. “Anak-anak pejabat?” batin pemuda berrambut ikal itu. Kata-kata kepala sekolah makin mengonfirmasi alasan mengapa perundungan dan penderitaan adiknya selama ini selalu ditutup rapat di bawah karpet kekuasaan.