Klak.
Bunyi engsel pintu kayu yang terbuka seketika menyerap keriuhan di dalam Kelas 11-A. Puluhan pasang mata refleks menoleh ke arah pintu utama.
Di garis ambang pintu, berdiri seorang pria muda dengan kemeja putih licin, celana kain hitam, dan kacamata berbingkai tipis. Wajahnya yang tegas, kulit sawo matangnya yang bersih, dan gaya rambut rapi khas pendidik teladan membuat murid-murid di dalam kelas sempat tertegun. Reno, remaja berbadan bongsor yang sedang duduk bersandar santai di atas meja guru sambil memutar-mutar kuncinya, kini menghentikan gerakannya. Di sudut belakang, Siska yang sedang memoles lipstik tipis menghentikan cermin lipatnya, sementara Bimo yang bersandar di dinding hanya menatap sinis.
Tak ada satu pun dari mereka yang mengenali bahwa pria jangkung di depan mereka adalah sosok yang sama dengan pemuda berjaket lusuh yang pernah berdiri di gerbang sekolah berminggu-minggu lalu.
Adnan melangkah masuk dengan tenang. Derap sepatu pantofelnya mengetuk lantai keramik dengan ritme konstan yang dingin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan lurus ke arah meja guru.
Reno, yang masih bertengger santai di atas meja guru, menyunggingkan senyum remeh. “Wah, ada guru baru nih. Pak Hendra beneran pensiun, ya?” tawa kecil keluar dari mulut siswa berbadan bongsor itu, memancing kekehan dari murid-murid lain di barisan belakang.
Adnan menghentikan langkahnya tepat di samping meja. Matanya yang tajam bertabrakan langsung dengan pandangan Reno dari balik kacamata tipisnya. Tidak ada rasa takut, bingung, atau ragu yang biasa diperlihatkan guru-guru baru saat menghadapi anak pejabat setempat.
“Turun,” ujar Adnan pendek. Suaranya tidak keras, tetapi memiliki tekanan berat yang mengintimidasi.
Reno terkekeh garing, tetapi matanya mengerdil saat mendapati sorot mata Adnan yang tawar tanpa emosi. Atmosfer ruangan mendadak menjadi tebal dan menekan. Tanpa sadar, Reno menurunkan kakinya dan bergeser turun dari meja guru, lalu berjalan kembali ke bangkunya di barisan belakang dengan wajah sedikit kesal.
Adnan meletakkan buku catatan merah darahnya di atas meja. Sebelum mengucapkan patah kata perkenalan, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu berukuran sedang dari dalam tasnya dan meletakkannya tepat di tengah meja guru.
“Kumpulkan seluruh ponsel kalian di kotak ini. Sekarang,” perintah Adnan dengan intonasi datar tanpa kompromi.
Seketika, gumaman heran memenuhi ruangan.
“Maksudnya gimana, Pak? Ini kan jam pelajaran biasa, bukan lagi ujian,” protes Bimo dari barisan belakang sambil bersedekap dada.
Adnan tidak merespons protes Bimo. Ia melipat kedua tangannya di dada, berdiri membeku menatap seluruh murid. “Saya tidak akan memulai interaksi apa pun di kelas ini sebelum seluruh ponsel bertumpuk di dalam kotak di atas meja saya.”