Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #8

Persekutuan

Kamis malam, sehari sebelum batas waktu pengumpulan laporan.

Layar ponsel Anton berkedip pelan di atas meja belajar. Sebuah undangan grup WhatsApp baru masuk ke akunnya. Nama grup itu sangat kontras dengan situasi kelas, 11-A DEFENSE. Anggotanya berisi hampir seluruh murid Kelas 11-A, kecuali tiga orang, yaitu Reno, Bimo, dan Siska.

Ton, lu udah masuk kan? Ini grup bersih. Gak ada Reno dan kawan-kawannya.” Jai membuka obrolan.

Kalian mau ngapain buat grup baru begini?” Anton sedikit kesal.

Kita mau bertahan hidup, Ton. Lu liat sendiri kan kelakuan si Bimo sama Reno kemarin? Mereka sengaja provokasi Gilang sama nyenggol bakso yang Aril bawa biar bisa bikin laporan fitnah.” Lanjut Jai.

Iya, Ton! Kita gak mau dijadiin Monster sama Pak Adnan. Tapi kita juga gak mau saling fitnah sama temen sendiri.” Tia ikut nimbrung juga.

Nih, kalian semua liat video yang baru gue kirim.” Jai mengirim sebuah video.

Sebuah video berdurasi lima belas detik terunggah di grup tersebut. Rekaman video itu memperlihatkan angle dari sudut belakang kelas, terlihat sangat jelas bagaimana kaki Reno sengaja menjulur keluar untuk menyenggol tumit Aril. Tak hanya itu, ada juga rekaman dari sudut lain yang memperlihatkan Siska sedang bersembunyi di balik celah pintu sambil memegang kamera ponsel.

Gue sengaja ngerekam ini dari meja pojok. Si Reno cs pikir mereka paling pinter. Video ini bukti kalau mereka yang bikin ulah duluan.” Jai merasa seperti seorang pahlawan sekarang untuk teman kelasnya.

Gila ... Jai, gue boleh jadikan video ini buat bahan laporan gue ke Pak Adnan?” Tia terus saja menjilat sana sini.

Silakan! Siapa pun yang belum punya bahan laporan, pangkas video ini, ambil bagian tiga sejoli itu yang lagi berulah, terus kirim ke email Pak Adnan. Kita jadiin mereka sebagai tumbal laporan kita minggu ini!” Jai menandai semua anggota grup.

Mereka semua hanya membalas dengan emotikon versi masing-masing pada pesan Jai yang terakhir. Sedangkan Anton hanya menatap layar ponselnya dengan mata tak berkedip. Sebuah persekutuan kegelapan telah terbentuk secara alami. Tanpa disadari oleh geng Reno, sikap arogan dan licik mereka justru menyatukan seluruh isi kelas untuk menjadikan mereka target bersama.

Jumat malam, pukul 20.59 WIB.

Adnan duduk di meja makan kontrakan yang remang. Di hadapannya, layar laptop tua memancarkan cahaya putih yang menimpa kacamata berbingkai tipisnya. Jemari panjangnya bergerak menggeser kursor, memantau inbox surel pribadinya.

Notifikasi masuk berturut-turut bagai air bah.

Lihat selengkapnya