Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #9

Senjata yang Dilumpuhkan

Senjata yang Dilumpuhkan

Persyaratan dua laporan per minggu dari Pak Adnan bagaikan vonis mati yang dipercepat. Jika minggu lalu kelas bisa bersatu karena ada target bersama, minggu ini paranoia berubah menjadi penyakit ganas. Stok video lama sudah habis, dan waktu terus berjalan mendekati Jumat malam.

Kini sampai di hari jumat, hampir semua murid belum mendapat laporan sama sekali. Minggu ini hampir tidak ada konflik dan masalah seperti biasa. Hanya masalah kecil, geng Reno yang suka membentak dan melototin mata ke murid-murid lain, itu pun tidak sempat direkam sama sekali.

Di jam istirahat pertama saat kelas dalam keadaan kosong, geng Reno melancarkan aksi paling licik yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun.

Saat sebagian besar murid berada di kantin, Bimo dan Siska bergerak cepat dari satu meja ke meja lain. Mereka merogoh tas murid-murid yang ditinggalkan, mengambil setiap ponsel yang tersimpan di dalamnya, lalu memasukkannya ke dalam tas punggung Bimo yang berukuran besar. Selama ini, murid-murid Kelas 11-A selalu merasa aman meninggalkan ponsel di dalam tas saat keluar membeli makanan. Tak satu pun dari mereka menduga ada iblis yang tega melumpuhkan pertahanan mereka dengan cara sekejam ini.

Setelah tas Bimo terisi penuh oleh puluhan ponsel, Bimo menghilang dari area kelas. Pemuda bertubuh kekar itu bergerak diam-diam menuju lantai paling atas gedung sekolah, sebuah area rooftop sepi yang jarang dikunjungi murid.

Beberapa saat kemudian, murid-murid mulai kembali ke kelas. Saat itulah Reno melancarkan aksinya untuk memecah konsentrasi dan mengulur waktu.

Reno berjalan mendekati meja Anton dengan langkah berat yang disengaja. Tanpa peringatan, Reno memukul tumpukan buku milik Anton hingga berserakan di lantai keramik.

“Dih, sok sibuk banget lu jadi ketua kelas,” cibir Reno dengan suara nyaring yang memotong obrolan kelas.

Anton tidak membalas. Ia menunduk, merapikan buku-bukunya dengan tenang. Tapi tidak dengan Reno, ia belum selesai. Ia melangkah maju, memiringkan kepala, lalu berbisik tepat di samping telinga Anton dengan nada yang sengaja dinyaringkan.

“Tapi ya maklum sih lu pendiam begini ... Lu kan anak tiri di rumah? Orang tua lu cerai gara-gara lu beban, kan? Mana ada yang peduli sama anak buangan kayak lu!”

Siska terkekeh di belakang sambil memainkan ponsel di genggamannya.

Seketika, suasana Kelas 11-A membeku. Anton mengepalkan tangannya rapat-rapat. Emosi Anton memuncak. Rasa ingin menghantam wajah Reno membakar dadanya. Hebatnya dia bisa mengontrol emosi, dan untuk mengabaikan Reno, ia memilih untuk bermain HP. Anton memutar badan hendak meraih HP di dalam tasnya.

Akan tetapi, jemarinya hanya menyentuh dasar tas yang kosong.

Anton berkedip, meraba-raba seluruh kompartemen tasnya. Tidak ada.

Lihat selengkapnya