Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #10

Pengirim Tanpa Nama

Jumat sore, pukul 17.00 WIB.

Empat jam sebelum tenggat waktu inbox Pak Adnan ditutup. Suasana di rumah Anton terasa mencekam. Anton, Jai, dan Tia duduk melingkar di atas karpet. Layar ponsel mereka tergeletak di tengah-tengah, menyala redup tanpa notifikasi video apa pun.

Kericuhan brutal di rooftop dan perkelahian Anton di dalam kelas kemarin berakhir tanpa satu pun rekaman. Tidak ada bukti visual. Jemari mereka gemetaran, diselimuti kepanikan hebat karena bayangan menjadi Monster di minggu kedua ini makin nyata.

“Mati kita, Ton ....” bisik Jai dengan suara bergetar, memegang kepalanya yang pening. “Tinggal empat jam lagi. Gue cuma punya satu catatan pelanggaran kecil si Bimo. Kurang satu laporan lagi buat nyelamatin leher gue!”

“Gue juga sama!” timpal Tia yang sedari tadi ketakutan. “HP kita disembunyiin kemarin, mana sempet kita ngerekam?!”

Sebagai ketua kelas, Anton merasa gagal. Permainan Pak Adnan benar-benar melumpuhkan mereka.

Tiba-tiba ….

TING!

Sebuah notifikasi pesan masuk memecah keheningan. Bukan dari grup kelas, melainkan pesan WhatsApp dari nomor baru tanpa foto profil. Pesan itu masuk secara bersamaan ke ponsel Anton, Jai, dan Tia.

Gunakan ini untuk bertahan hidup.”

Di bawah pesan singkat itu, terlampir beberapa video. Video-video itu bukan rekaman hari ini, melainkan arsip kejahatan geng Reno terhadap Maya selama berbulan-bulan yang direkam secara sembunyi-sembunyi dari jarak dekat.

Layar ponsel memperlihatkan bagaimana Maya disiram air di kantin hingga seragamnya basah kuyup sementara anak-anak lain tertawa, tas sekolah Maya yang dilempar dan dioper bergantian di dalam kelas hingga isinya berserakan, dan rekaman paling mengerikan di rooftop, Maya yang terpojok sambil menangis histeris sementara Reno, Bimo, dan Siska memaki sambil menumpahkan minuman ke kepalanya. Maya diperlakukan seperti bukan manusia oleh mereka bertiga.

Tia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak tak percaya. Ternyata Maya disiksa separah itu oleh mereka bertiga. Kiranya hanya bercanda dan omelan-omelan di kelas doang, ternyata lebih dari itu.

Lihat selengkapnya