Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #11

Panggung Sang Monster

Sabtu pagi.

Kini evaluasi laporan minggu kedua.

Reno, Bimo, dan Siska duduk di barisan belakang dengan sikap angkuh yang dipaksakan. Sementara Anton, Jai, dan Tia duduk kaku. Anton melirik ke sudut kelas, ke bangku kosong milik Maya. Rasa bersalah kembali menusuk dadanya mengingat Maya kini terpuruk, mengalami depresi dan trauma berat di rumahnya. Anton berusaha menerka siapa pemilik nomor anonim yang kemarin menyelamatkan mereka, tapi kepalanya benar-benar buntu.

Keheningan yang mencekam menyelimuti setiap sudut ruangan Kelas 11-A. Tak ada satu pun murid yang berani berbisik, bahkan sekadar menggeser posisi duduk mereka. Udara pagi yang biasanya diisi celoteh dan tawa anak-anak SMA kini terasa sesak, berat, dan dipenuhi oleh firasat buruk yang merayap dingin ke dalam tulang.

Brak!

Suara benturan keras mengejutkan seluruh isi ruangan. Pak Adnan meletakkan kotak kayu berisi ponsel dan buku catatan merah darahnya ke atas meja guru dengan dentuman yang jauh lebih keras dari biasanya.

Tidak ada lagi senyum sopan atau gestur ramah. Aura Adnan yang melangkah masuk pagi itu begitu dingin, pekat, dan mematikan. Dari balik kacamata tipisnya, tatapan matanya menusuk lurus ke sudut belakang ke arah Reno, Bimo, dan Siska.

Di dalam hatinya, Adnan tahu betul siapa pahlawan anonim di balik layar ini. Bukan Anton atau murid-murid panik lainnya, melainkan Andini, siswi pendiam yang selalu duduk bersisian dengan Maya. Andini-lah yang konsisten mengirim bukti ke surel Adnan sejak awal. Video yang dikirimkan murid-murid lain kemarin sore hanyalah peluru susulan yang disebar dari arsip keberanian Andini.

Adnan memandang wajah Andini sekilas dari kejauhan. Ada secercah rasa hormat di matanya untuk gadis itu. Andini telah membuktikan bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri, meski harus bersembunyi di balik bayang-bayang ketakutan. Bagi Adnan, permainan ini baru saja dimulai dan eksekusi sejati belum sepenuhnya diluncurkan.

“Evaluasi Jumat Malam kedua,” ucap Adnan. Suaranya datar, tanpa nada, "Hari ini, Saya tidak akan banyak bicara. Kita langsung masuk ke penetapan status.”

Adnan membuka buku merahnya.

“Pertama, Reno.” Adnan mendongak. “Kamu hanya mengirimkan SATU laporan berupa foto wajahmu yang memar, tanpa bukti valid siapa pelakunya. Kamu mengabaikan kewajiban laporan kedua. Sesuai aturan system ... kamu secara otomatis gugur.”

Lihat selengkapnya