Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #12

Ancam Balik

Sabtu malam, pukul 20.00 WIB.

Adnan baru saja balik dari rumah sakit jiwa, menitip Maya sebentar di sana, karena dia ingin berangkat ke pulau selama 3 hari. Kebetulan, yang bekerja di rumah sakit adalah kenalan Adnan sendiri, jadi untuk administrasi dan keperluan lainnya, Adnan tidak terlalu khawatir.

Rasa lelah yang amat sangat membebani pundaknya setelah menempuh perjalanan dari rumah sakit. Mengingat wajah Maya yang masih terbelenggu dalam jerat kepedihan membuat hatinya teriris, tetapi hal itu justru makin membulatkan tekadnya. Keputusannya menitipkan Maya sementara waktu adalah langkah taktis agar fokusnya tak terpecah saat mengeksekusi rencana besarnya di pulau esok hari.

Ponsel Adnan yang tergeletak di atas meja terus bergetar tanpa henti. Layar ponselnya menyala, menampilkan panggilan masuk dari nomor baru. Adnan mengbaikan deringan telepon itu.

TING!

Pesan masuk dari nomor baru, nomor yang sama, yang baru saha menelepon.

“Pak Adnan! Anak saya, Reno cerita apa yang terjadi di kelas hari ini! Ini sudah gila! Liburan sekolah besok Reno, dan kedua temannya, Bimo dan Siska tidak akan ikut! Saya akan laporkan tindakan intimidasi ini ke Kepala Sekolah besok pagi dan akan diproses secara hukum!

Adnan menatap layar ponsel itu tanpa ekspresi. Dengan sangat tenang, ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu, lalu mengetikkan balasan singkat.

Silakan, Bapak yang terhormat. Tapi sebelum Bapak melangkah lebih jauh, izinkan saya mengirimkan sepotong video singkat ini dulu.”

Dengan satu ketukan jari, Adnan mengirimkan lampiran video rekaman penyiksaan mental terhadap Maya di rooftop yang dipimpin oleh Reno, dan video aksi Bimo yang merogoh dan mencuri puluhan ponsel milik murid-murid Kelas 11-A.

Jauh sebelum kejadian aksi geng Reno mencuri ponsel para murid di dalam kelas, Adnan secara diam-diam sengaja datang malam-malam ke sekolah untuk memasang kamera kecil terselubung di pitingan lampu pijar. Kamera kecil itu berhasil menangkap seluruh kelicikan Reno dan kawan-kawannya, yang kini digunakan Adnan sebagai bukti kuat tindakan kriminal dari ketiga muridnya yang telah menjadi Monster.

Setiap strategi telah disusun Adnan dengan sangat matang bagaikan permainan catur. Ia paham betul tipe orang tua seperti Ayah Reno, kaya, merasa tak tersentuh oleh hukum, dan selalu menggunakan pengaruhnya untuk menutupi kebusukan sang anak. Senjata terbaik untuk menjatuhkan orang seperti itu bukanlah makian, melainkan ancaman kehancuran reputasi secara mutlak.

Lihat selengkapnya