Minggu pagi, pukul 06.00.
Pelabuhan kayu tua itu diselimuti kabut tipis. Bau garam dan bau amis laut menusuk hidung, berpadu dengan deru mesin kapal feri kecil bersuara berat yang tertambat di dermaga.
Deritan kayu dermaga yang lapuk beradu dengan tiupan angin laut yang dingin, seolah menyanyikan simfoni kelam untuk menyambut rombongan tersebut. Lautan lepas di hadapan mereka tampak begitu pekat dan misterius, seakan tahu bahwa pelayaran hari ini bukan sekadar perjalanan liburan sekolah biasa, melainkan awal dari tragedi yang dirancang rapi.
Akhirnya Reno berhasil meminta izin kepada kepala sekolah untuk berlibur khusus di pulau itu. Adnan telah menjelaskan kegiatan awal sampai akhir kepada kepala sekolah, tanpa kejanggalan sedikitpun. Dengan jelasan Adnan yang bijak dan masuk akal, tidak ada alasan kepala sekolah untuk manwar proposal kegiatan yang diajukan oleh Adnan selaku wali kelas 11-A.
Satu per satu murid Kelas 11-A berkumpul dengan tas gunung dan ransel besar di pundak. Tidak ada keceriaan atau tawa selayaknya remaja yang hendak pergi berlibur. Wajah-wajah mereka tegang, dingin, dan penuh dengan kecurigaan.
Reno, Bimo, dan Siska berdiri paling belakang di sudut dermaga. Reno mengenakan jaket tebal berkupluk hitam, sementara Bimo dan Siska terus melirik gelisah ke sekeliling. Di dalam tas besar Reno, tersimpan beberapa senjata tajam lipat dan ponsel rahasia dengan kartu khusus yang telah disiapkan untuk menghubungi orang-orang bayarannya begitu tiba di pulau.
Reno menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dendam. Di balik tudung jaketnya, matanya terus memperhitungkan pergerakan tiap orang di dermaga. Ia merasa berada satu langkah di depan Adnan, meyakini bahwa senjata rahasia dan rencana liciknya akan mampu membalikkan keadaan saat mereka menginjakkan kaki di tanah terasing itu.
Adnan berdiri di pangkal jembatan kayu kapal. Ia mengenakan jaket angin berwarna abu-abu gelap, membawa sebuah kotak besi besar bersandi di tangan kirinya.
“Perhatian semuanya,” panggil Adnan. Suaranya membelah kebisingan angin laut. “Sebelum kalian naik ke atas kapal, kumpulkan seluruh ponsel, jam tangan pintar, dan alat komunikasi apa pun ke dalam kotak ini.”
Gumam keresahan menyebar cepat di antara para murid.