Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #14

Aturan di Tanah Terisolasi

Minggu pagi, pukul 08.00.

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam membelah gelombang laut, ujung kapal feri akhirnya menghantam pasak dermaga kayu Pulau Sebatu. Derit kayu tua menyambut kedatangan anak-anak Kelas 11-A saat satu per satu melangkah turun dari kapal.

Suasana pulau itu terasa asing dan menekan. Bau tanah basah dan udara lembap dari hutan lebat langsung menyergap paru-paru. Di tengah pulau, berdiri sebuah vila tua berlantai dua dengan cat putih yang mulai mengelupas, satu-satunya bangunan yang berdiri kokoh di sana.

Pak Adnan berdiri di depan teras vila dengan kunci-kunci kamar berantai besi di tangannya.

“Selamat datang di Pulau Sebatu,” sapa Adnan. Suaranya terdengar sangat bersemangat di tengah desir angin laut. “Sebelum kita menaruh barang dan makan siang, Saya akan bagikan kamar kalian masing-masing.”

Adnan membacakan pembagian kamar. Anton, Jai, dan beberapa murid lain ditempatkan di kamar-kamar lantai utama vila dengan memisahkan kamar murid laki-laki dan perempuan.

“Untuk Reno, Bimo, dan Siska ....” Adnan mengacungkan sebuah kunci berkarat. “Kalian ditempatkan di paviliun belakang. Bekas gudang pekerja.”

Bimo melotot tak percaya. “Hah? Gudang belakang? Pak, di sana tidak ada lampu, pasti gelap dan bau banget! Masa kita ditaruh di tempat gituan?”

“Seorang Monster tidak memiliki hak untuk memilih sarang,” jawab Adnan tanpa penyesalan sedikit pun. “Segera masukkan barang-barang kalian ke sana, lalu kumpul di ruang tengah untuk pengarahan aturan dan makan siang.”

Adnan beranjak dari tempat itu. Dia menuju lantai 2 yang hanya terdapat 1 kamar di sana dengan balkon yang langsung mengarah ke ara laut lepas.

Siska mulai terisak pelan sambil menyeret koper cantiknya melewati jalan setapak berkerikil menuju paviliun belakang yang terpisah dari bangunan utama. Murid-murid lain menyaksikan kepindahan trio tersebut dengan tatapan sinis, tanpa ada satu pun yang menaruh rasa kasihan.

Pukul 11.00 WIB. Ruang Tengah Vila.

Sebelum makan siang dihidangkan, seluruh murid berkumpul melingkar di ruang tengah vila yang remang-remang. Di atas meja kayu panjang, Adnan telah meletakkan sebuah Kotak Kayu berukir dengan celah kecil di bagian atasnya.

“Perhatian semuanya,” buka Adnan, berdiri di samping Kotak Merah tersebut. “Karena tidak ada jaringan sinyal maupun gawai di pulau ini, mekanisme laporan untuk Minggu Ketiga resmi disesuaikan.”

Semua mata murid tertuju pada Kotak Merah di atas meja.

Lihat selengkapnya