Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #15

Perburuan Perdana dan Poin Kritis

Senin, pukul 06.30 WIB.

Kabut tebal membungkus pesisir Pulau Sebatu. Suasana di sekitar vila sepi dan menekan, hanya diiringi desir angin laut dan gemerisik daun hutan bakau.

Bau lembap pepohonan liar dan hembusan udara dingin yang menusuk tulang seolah menegaskan bahwa mereka kini benar-benar terisolasi dari peradaban. Di tanah terasing ini, tidak ada bel sekolah, tidak ada aturan guru piket, dan tidak ada hukum formal yang dapat melindungi siapa pun yang lemah.

Di dalam paviliun belakang, Reno, Bimo, dan Siska memutuskan untuk bergerak lebih awal. Perut Bimo keroncongan hebat akibat makanannya yang dibuang kemarin, sementara Siska tidak bisa berhenti gemetar.

“Kita harus cari jalan keluar atau sembunyi di hutan utara,” bisik Reno pelan sambil melangkah keluar dari gudang. Tangan kanannya menggenggam pisau lipat yang tersembunyi rapat di saku jaketnya. “Di sana banyak tebing karang. Lebih gampang bertahan dibanding di sini dan siapa tahu ada orang mancing di sana atau yang sedang cari ikan, kitab isa nebeng di perahunya dan segera melaporkan si Adnan psikopat itu.”

Tidak segampang itu, baru sepuluh meter mereka melangkah melewati semak-semak menuju jalur pantai, langkah trio tersebut terhenti kaku.

Bayangan hitam berkelebak cepat di balik rapatnya pepohonan. Suara ranting patah yang terinjak sepatu berat langsung membuat bulu kuduk mereka berdiri tegak, menyadarkan ketiga anak itu bahwa pergerakan mereka telah diintai sejak awal.

Dari balik pepohonan rimbun, empat murid laki-laki melangkah keluar menutupi jalan. Di barisan paling depan, berdiri Jai bersama Anton sebagai satu tim komplotan. Wajah mereka tidak lagi memancarkan rasa takut pada geng Reno. Tatapan mereka kosong, dingin, dan dipenuhi naluri perburuan yang pekat.

Di tangan Jai, menggantung sebatang rantai besi tua bekas penambat perahu.

“Mau ke mana kalian, wahai monster?” tanya Jai pelan, suaranya nyaris tanpa nada.

Bimo yang panik mencoba menggunakan taktik lamanya. Ia maju dua langkah sambil membusungkan dadanya yang bongsor. “Anjing! Mau apa lu pada, hah! Minggir gak! Lu lupa siapa gue? Berani maju, gue hancurin muka lu satu-satu!”

Dahulu, gertakan Bimo selalu berhasil membuat murid-murid Kelas 11-A ciut. Tapi tidak dengan sekarang, pagi ini, tidak ada satu pun yang mundur.

“Lu cuma mesin biologis bongsor yang penuh cacat desain, Bimo, hahaha,” ejek Jai, mengutip persis kalimat Adnan semalam. “Otot besar lu gak ada gunanya,” lanjutnya diiringi ketawa anton dan 2 murid lainnya.

Lihat selengkapnya