Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #16

Puncak Kegilaan dan Pengkhianatan

Senin sore, pukul 18.00 WIB.

Langit Pulau Sebatu memerah seperti darah. Gemuruh ombak di balik tebing karang terdengar makin keras, menyamai detak jantung para murid yang belum menyerahkan laporan ke Kotak Merah.

Tersisa tiga jam sebelum tenggat pukul 21.00 WIB.

Bimo yang terbaring di paviliun belakang meringkuk memegangi tangannya yang dislokasi. Napasnya terengah-engah, matanya dipenuhi ketakutan. Di sebelahnya, Siska menangis tanpa henti.

“Ren, tangan Bimo sakit parah. Gue gak mau mati di sini,” bisik Siska gemetar. “Gue mau pulang, kita menyerah aja. Mungkin Pak Adnan memberi kita hukuman karena telah memperlakukan murid yang lain dengan semena-mena, kita minta maaf saja di hadapan murid yang lain.”

“Diam!” bentak Reno. Matanya merah, urat-urat di lehernya menegang. Ia menggeledah tasnya, mengeluarkan dua pisau lipat yang tajam.

“Kalian berdua sengsara karena penakut!” maki Reno dingin. “Kalau sinyal gak ada, berarti aturan hukum di luar juga gak berlaku di sini. Gue bakal balik ke vila. Gue bakal bikin salah satu murid sok suci itu berdarah di depan si Adnan. Kita lihat, apa si Adnan masih berani main-main!”

Reno berjalan keluar paviliun menuju bangunan utama vila dengan pisau terhunus di balik lipatan jaketnya. Niatnya sudah bulat, ia akan menyerang siapa saja murid yang terpisah dari rombongan.

Pukul 19.30 WIB. Area Dapur Luar Vila.

Suasana vila remang-remang. Sebagian besar murid berdiam di dalam ruang tengah yang terang, bersiap menyaksikan penutupan Kotak Merah. Namun, Andini terlihat melangkah sendirian ke arah sumur belakang vila untuk mengambil air.

Reno yang mengintai dari balik kegelapan semak-semak tersenyum licik. Andini. Gadis pendiam yang belum menyerahkan laporan. Mangsa yang sempurna.

Dengan cepat, Reno melompat keluar dari semak, menyergap Andini dari belakang dan memiting lehernya. Bilah pisau lipat yang berkilat menempel ketat di urat nadi Andini.

“Jangan bergerak atau gue gorok leher lu!” bisik Reno penuh dendam di telinga Andini. “Lu bakal jadi bukti buat Adnan kalau permainan gila ini harus berhenti!”

Namun, yang terjadi selanjutnya di luar dugaan Reno.

Andini tidak menjerit. Ia tidak menangis. Wajah gadis itu sangat tenang, seolah-olah ia sudah menunggu momen ini sepanjang hari.

Lihat selengkapnya