Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #17

Malam Penghakiman dan Bau Kebebasan

Senin, pukul 22.00 WIB.

Hujan lokal mendadak turun mengguyur Pulau Sebatu. Angin malam bertiup kencang, menghantam dinding-dinding kayu vila tua hingga berderit nyaring.

Di dalam ruang tengah yang remang-remang, suasana begitu hening. Seluruh murid Kelas 11-A duduk melingkar di lantai. Tidak ada gelak tawa, tidak ada bisik-bisik. Yang ada hanyalah tatapan mata kosong dan napas-napas berat yang lelah secara fisik maupun mental.

Di sudut ruangan, Reno terduduk kaku dengan kedua tangan terikat tali tambang plastik ke tiang kayu utama vila. Pisau lipatnya sudah disita dan disimpan rapat di saku kemeja Adnan. Wajah Reno lebam, rambutnya acak-acakan, dan matanya menatap lantai dengan tatapan hampa. Ia tidak lagi mengamuk, tidak lagi memaki. Kehancuran reputasi sang ayah, ancaman penjara, dan pengkhianatan dua temannya telah menembus pertahanan mentalnya sampai habis.

Di sisi lain ruangan, Bimo duduk memegangi lengannya yang sudah dibalut kain mitela darurat oleh Anton, sementara Siska meringkuk ketakutan di samping murid-murid perempuan lain. Meskipun mereka berdua selamat dari status Monster minggu ini, wajah mereka tidak memancarkan kebahagiaan sedikit pun. Rasa bersalah dan malu akibat mengkhianati Reno kini menggerogoti pikiran mereka.

Adnan menatap Bimo, pemuda yang selama ini menjadi tangan kanan Reno, kini tampak seperti burung sayap patah yang kehilangan arah. Lampu pijar di langit-langit vila berkedip pelan, memantulkan bayangan jemari Bimo yang gemetar di atas kain balutannya.

“Bagaimana tanganmu, Bimo?” tanya Adnan, suaranya kini melunak, meninggalkan nada intimidasi yang biasa ia gunakan di kelas.

Bimo hanya menunduk rapat. “Masih ngilu, Pak. Anton bilang ini cuma dislokasi ringan.”

Adnan menghela napas, matanya tertuju pada jemari Bimo yang panjang dan lentur. Jemari itu seharusnya tidak dirancang untuk menggenggam kemarahan. “Ayahmu seorang dokter bedah yang hebat di kota, bukan? Beliau menghabiskan hidupnya menyelamatkan nyawa orang lain, tapi entah mengapa, beliau gagal melihat bahwa nyawa putranya sendiri sedang sekarat di balik ambisi medis yang ia paksa pertahankan.”

Bimo tersentak, matanya yang berkaca-kaca menatap Adnan dengan tatapan kosong yang menyakitkan. “Loh, dari mana guru ini tahu tentang masalahku?”

“Setiap hari petikan gitarmu seolah-olah memberi nada dan petunjuk, bahwa kamu tidak benar-benar menikmati Pendidikan yang sedang kamu tekuni sekarang, kamu terpaksa mengikuti arah jari telunjuk orang tuamu, demi meraih gelar anak berbakti. Akan tetapi kamu lupa, memaksakan kehendak mereka ternyata mengantarkan kamu untuk menjadi seorang monster yang ganas.”

Adnan berjalan mendekati Bimo, lalu memegang pundak Bimo, merasakan ketegangan yang sudah berbulan-bulan membatu di sana. Di tengah deru hujan yang menghantam atap seng, Adnan membisikkan sebuah kalimat yang menggetarkan sanubari Bimo dan semua murid yang mendengarnya.

“Sebuah rumah seharusnya menjadi panggung pertama bagi seorang anak untuk mementaskan impiannya, bukan menjadi ruang bedah di mana setiap harapannya dipotong paksa demi ambisi orang tua yang dominan.”

Adnan diam sejenak, membiarkan kalimat itu meresap sebelum melanjutkan ucapannya.

Lihat selengkapnya