Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #18

Gelombang di Ujung Dermaga

Selasa, pukul 06.00 WIB.

Kabut pagi perlahan menipis di atas dermaga kayu Pulau Sebatu. Bau garam dan tanah basah menyeruak di udara.

Seluruh murid Kelas 11-A sudah berdiri rapi di tepi pantai dengan tas punggung masing-masing. Wajah-wajah mereka pucat. Tidur semalam tidak membuat mereka merasa lebih segar; bayangan intimidasi, materi anatomis mematikan, dan ancaman status Monster terus menghantui tidur mereka menjadi mimpi buruk.

Keheningan yang dingin menusuk hingga ke dada, menyisakan trauma di benak setiap murid. Tak ada satu pun dari mereka yang bertukar sapa, masing-masing terjebak dalam penyesalan dan rasa takut akan monster yang bersemayam dalam diri mereka sendiri

Pak Adnan berdiri di ujung dermaga, menatap lurus ke garis horison laut. Dari kejauhan, suara deru mesin kapal feri penjemput mulai terdengar mendekat, membelah kabut pagi.

“Perhatikan saya semuanya,” ujar Adnan tanpa menoleh.

Seluruh murid langsung berbaris tegak. Kehadiran Adnan kini menciptakan aura dominasi yang begitu mutlak di kepala mereka.

“Dua puluh satu hari yang lalu, aku masuk ke kelas kalian. Aku memandang kalian sebagai manusia-manusia congkak,” ucap Adnan datar. “Kalian menganggap perundungan adalah lelucon, hal yang wajar. Kalian menganggap menyiksa mental dan fisik seorang gadis miskin seperti Maya adalah hak kalian karena orang tua kalian kaya dan berkuasa.”

Adnan membalikkan badan, menatap anak-anak didiknya.

“Tapi lihat kalian hari ini. Dalam tiga minggu, kalian belajar bagaimana rasanya diburu. Kalian belajar bagaimana rasanya ketakutan. Dan yang paling penting, kalian belajar betapa mudahnya kalian sendiri berubah menjadi iblis hanya untuk menyelamatkan leher kalian masing-masing.”

Anton menunduk rapat. Kalimat Pak Adnan menghantam dadanya seperti pukulan telak. Anton menyadari betul bahwa demi terhindar dari status Monster, ia dan Jai telah melumpuhkan Bimo tanpa keraguan sedikit pun kemarin pagi. Mereka telah dipola oleh Adnan menjadi mesin eksekutor.

Rasa bersalah yang teramat sangat menyesakkan dada Anton. Ia sadar, di balik alasan pertahanan diri, batas antara keadilan dan kekejaman dalam dirinya telah bergeser dan buram karena permainan psikologis guru mereka.

“Kalian pikir eksperimen ini selesai saat kita naik ke kapal feri?” Adnan tersenyum tipis, “Perjalanan kita baru saja dimulai.”

Lihat selengkapnya