Kamis, pukul 10.00 WIB.
Ruang tunggu Kantor Kepolisian dipenuhi ketegangan. Beberapa pengacara kaya yang disewa oleh orang tua mantan geng Reno berkumpul di sudut ruangan, saling berbisik menyusun strategi hukum untuk menjerat Adnan dengan pasal perampasan kemerdekaan dan penganiayaan. Bagi mereka, Adnan harus dijadikan kambing hitam utama agar nama baik keluarga mereka bersih.
Suara bisik-bisik berbau ancaman dan kesepakatan berputar-putar di udara, menciptakan atmosfer manipulatif yang biasa digunakan oleh orang-orang berkuasa untuk membungkam kebenaran.
Seketika di lorong utama kantor polisi, derap langkah kaki meramai. Dari jauh, hampir semua anak didik Adnan berdatangan di bangunan yang dipenuhi penjahat itu. Mulai dari Anton yang memimpin barisan, diikuti Jai dan Andini, bahkan Bimo, Siska, dan murid-murid lainnya menuju meja penyidik kepolisian.
“Kalian mau apa ke sini?” tanya salah satu pengacara dengan tatapan serius.
Anton tidak menghiraukannya. Ia melangkah mantap mendekati penyidik senior yang memimpin kasus tersebut.
“Pak Polisi,” tegas Anton dengan suara lantang yang terdengar ke seluruh penjuru ruangan. “Kami datang ke sini bukan untuk memberatkan Pak Adnan. Kami semua datang untuk menjadi saksi sukarela yang membela Pak Adnan!”
Di belakang Anton, anak-anak Kelas 11-A saling mengangguk mantap.
“Benar, Pak!” sahut salah seorang murid perempuan dari barisan belakang. “Selama ini kami diam karena takut sama geng Reno! Pak Adnan tidak pernah menculik atau menyiksa kami di pulau. Beliau justru mengajari kami keberanian dan empati!”
"Di sekolah, kami selama ini membiarkan pembullyan berkembang biak. Pak Adnan lah yang membuat kami sadar, bahwa pembullyan ini bisa merubah kami menjadi monster," lanjut Anton sangat tegas.
Laki-laki berseragam polisi rapi itu tertegun. Ia menatap deretan murid SMA itu dengan rasa terkejut. Jarang sekali ada kasus dimana korban yang dilaporkan diculik justru berbondong-bondong datang untuk membela tersangka.
Para pengacara berjas mahal di sudut ruangan mendadak mematung, wajah-wajah angkuh mereka perlahan pudar berganti menjadi kepanikan saat melihat skenario hukum yang telah disiapkan runtuh dalam hitungan detik.
"Hei, tahu apa kalian para bocah? Kalian sudah dibayar berapa sama guru psikopat itu? Bahkan kalian menentang orang tua kalian!" murka salah satu pengacara, ia berjalan mendekat ke murid-murid itu.
Sangat sigap, Bimo, Siska, Jai, dan Anton maju ke depan. Membentangkan tangan, kemudian memegang tangan satu sama lain untuk membuat benteng pertahanan. Mereka menahan beberapa pengacara yang berusaha menarik keluar teman-temannya.