Sabtu, pukul 19.00 WIB.
Suasana malam di Kota Nusa Bangsa terasa hening setelah badai pemberitaan Pulau Sebatu perlahan mereda. Di tengah keheningan itu, ponsel di genggaman para murid kelas 11-A mendadak bergetar secara bersamaan.
Sebuah notifikasi dari Grup WhatsApp, grup yang selama tiga minggu ini menjadi saksi ketakutan, simulasi, dan instruksi dari gurunya.
Pengirimnya adalah Adnan.
Untuk anak-anakku Kelas 11-A,
Terima kasih atas keberanian kalian berdiri sebagai saksi di kantor polisi kemarin. Kalian telah membuktikan bahwa pengalaman dan tantangan hidup yang telah kita lalui di Pulau Sebatu tidak sia-sia. Malam ini, ada satu hal penting yang harus saya sampaikan sebelum saya resmi mengundurkan diri sebagai guru kalian dan menyerahkan surat pengunduran diri ke pihak sekolah besok pagi.
Selama ini kalian tentu bertanya-tanya, mengapa saya memilih Kelas 11-A? Mengapa saya begitu terobsesi mengajarkan kalian arti empati dan rasa sakit dari orang yang tertindas? Jadi, gadis yang kalian rundung hingga trauma dan berhenti sekolah beberapa bulan lalu, Maya, dia adalah adik kandung saya satu-satunya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana adik saya datang ke rumah dengan mata sembap, tubuh gemetar, dan ketakutan setiap kali mendengar kata sekolah. Saya melihat bagaimana tawa, cita-cita, dan jiwanya dihancurkan perlahan-lahan oleh keangkuhan dan intimidasi di kelas ini.
Awalnya, saya datang ke sekolah kalian dengan hati yang sudah dikerumuni oleh amarah dan dendam. Saya ingin menghancurkan kalian. Tapi di Pulau Sebatu, saya sadar, menghancurkan kalian tidak akan membuat adik saya sembuh. Kalian menjadi jahat bukan karena keinginan kalian sendiri, melainkan karena tidak ada yang pernah mengajari kalian bagaimana caranya menjadi manusia. Saya meminta maaf jika metode yang saya gunakan terlalu keras dan melukai fisik maupun mental kalian. Saya berharap, rasa sakit yang kalian rasakan di pulau itu menjadi pengingat seumur hidup agar kalian tidak pernah lagi merendahkan sesama.
Jadilah manusia yang punya hati. Maafkan guru kalian ini.
Salam,
Pak Adnan