Senin, pukul 09.00 WIB.
Setelah dua minggu lebih mendekam dalam sel tahanan anak, syarat penangguhan tahanan Reno akhirnya disetujui. Karena usianya yang masih di bawah umur, polisi membebaskannya dari penahanan fisik dengan catatan evaluasi psikologis ketat dan kewajiban melapor. Di lua Gedung kepolisian, tidak ada penyambutan hangat. Tidak ada pesta, tidak ada teman-teman geng yang menunggunya. Ayahnya bahkan hanya mengutus seorang sopir untuk mengantarkan dokumen kepindahan sekolahnya ke luar kota.
Dunia yang dulu tunduk padanya kini lenyap tanpa bekas. Reno menyadari betapa ringkihnya status sosial dan kekayaan yang selama ini ia banggakan, saat masalah besar menghantam, ia ditinggalkan sendirian untuk menanggung kejatuhannya.
Sebelum pergi meninggalkan kota Nusa Bangsa untuk selamanya, Reno mengajukan satu permintaan terakhir kepada pengacaranya, ia ingin menemui Maya. Sebelumnya Reno sudah janjian sama Adnan bakal ketemu di RSJ.
Mobil sedan hitam itu berhenti di halaman Rumah Sakit Jiwa Graha Medika. Suasana koridor bangsal perawatan terasa sangat tenang, berbanding terbalik dengan gemuruh di dalam dada Reno. Langkah kakinya terasa berat saat menelusuri lantai keramik putih menuju kamar perawatan nomor 402.
Aroma antiseptik yang tajam dan keheningan koridor rumah sakit seolah menghimpit dadanya, mengingatkan Reno secara paksa pada konsekuensi nyata dari setiap kekejaman yang telah ia lakukan.
Di balik kaca pintu kamar, seorang gadis bergaun putih lusuh duduk termenung di tepi ranjang. Pandangannya kosong menatap luar jendela, tak sedikit pun bergerak meski suara pintu perlahan terbuka.
Reno menghentikan langkahnya di ambang pintu. Matanya memerah, dadanya sesak melihat kondisi Maya. Gadis yang dahulu ceria dan pintar itu kini tampak begitu kurus dan rapuh.
“M-Maya...” bisik Reno dengan suara gemetar parau.
Gadis itu tidak menoleh. Ia bahkan tidak bereaksi terhadap panggilan itu, seolah jiwanya sedang mengembara di tempat yang sangat jauh.
Reno perlahan berlutut di lantai samping ranjang Maya. Air matanya menetes jatuh membasahi lantai. Keangkuhan, nama besar keluarga, dan ego geng yang dulu diagung-agungkannya kini terasa sama sekali tak berguna.
Adnan yang menyaksikan itu tidak begitu kuat, dia berjalan keluar dari ruangan itu. Adnan menutup pintu kamar secara perlahan dari luar, memberikannya ruang untuk menanggung rasa penyesalannya sendiri. Pria itu menyandarkan tubuhnya di dinding dingin koridor, menghela napas panjang menahan keperihan yang belum sepenuhnya pulih.