Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #23

Rumah di Ujung Gang

Keputusan Adnan sudah bulat. Surat pengunduran dirinya dari SMA Nusa Bangsa telah diserahkan secara resmi kepada Kepala Sekolah, Pak Gunawan. Pria yang dulunya dipandang sebagai sosok guru yang dingin, intimidatif, dan penuh strategi di Pulau Sebatu itu kini menanggalkan seluruh jubah akademisnya. Ia tidak lagi mengejar karier atau pengakuan. Dunia Adnan kini menyempit sekaligus meluas, di sebuah kontrakan sederhana beratap genteng cokelat di ujung gang kecil Kota Nusa Bangsa.

Setelah melewati serangkaian evaluasi psikologis di Rumah Sakit Jiwa Graha Medika, dokter akhirnya mengizinkan Maya untuk menjalani rawat jalan di rumah. Lingkungan yang familiar dan bebas dari kesan medis dinilai jauh lebih baik untuk menyembuhkan jiwa Maya yang retak.

Pukul 06.30 WIB.

Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar beratap rendah. Di atas ranjang busa yang terawat rapi, Maya masih terduduk kaku. Ia mengenakan sweater rajut longgar berwarna krem. Rambut hitamnya disisir rapi oleh Adnan setiap pagi. Tatapan matanya masih sama seperti saat di bangsal rumah sakit, hampa, menyawang kosong ke arah dinding kayu tanpa sepatah kata pun terucap.

Adnan melangkah masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. Pria itu menyunggingkan senyum lembut, sebuah senyum tulus yang tidak pernah satu pun murid Kelas 11-A saksikan saat di sekolah dulu.

“Selamat pagi, Maya,” sapa Adnan dengan suara yang sangat pelan dan hangat. Ia duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang adiknya. “Pagi ini udaranya segar sekali. Abang buatkan bubur favoritmu, lengkap dengan kerupuk yang dihaluskan.”

Maya tidak menoleh. Jemari tangannya yang kurus hanya meremas pinggiran selimut.

Adnan tidak berkecil hati. Selama beberapa minggu terakhir, ia telah terlatih untuk bersahabat dengan keheningan. Tanpa menunjukkan rasa lelah, Adnan menyuapkan bubur secara perlahan ke mulut Maya. Setiap kali adiknya mengunyah lambat tanpa suara, Adnan mengusap puncak kepala Maya dengan penuh kasih sayang.

“Makan yang banyak ya, May,” bisik Adnan pelan. “Abang ada di sini. Tidak akan ada lagi orang jahat yang bisa menyakitimu. Abang Janji.”

Bagi Adnan, kehidupan sehari-harinya kini berputar pada rutinitas yang konstan. Setelah adiknya makan dan meminum obat, Adnan akan menuntun Maya ke teras rumah yang dihiasi pot-pot tanaman gantung. Ia membacakan buku-buku cerita kesukaan Maya, memutar musik instrumen klasik yang menenangkan, atau sekadar duduk bersisian di kursi bambu memandangi dedaunan yang diterpa angin pagi.

Adnan percaya, meskipun Maya tidak memperlihatkan respons nyata, hati Maya tetap mendengar keikhlasan dia yang merawat dan selalu berharap kesembuhan adiknya.

Adnan sengaja menolak beberapa tawaran mengajar dari sekolah lain. Uang simpanannya cukup untuk membiayai hidup sederhana mereka. Fokus utamanya hanya satu, menyembuhkan trauma adiknya secara mandiri.

Lihat selengkapnya