Bulan demi bulan berganti, membawa hawa dingin musim hujan yang menyiram sudut-sudut Kota Nusa Bangsa. Suasana di SMA Nusa Bangsa perlahan-lahan menata dirinya kembali setelah badai Skandal Pulau Sebatu mereda. Bekas luka dan pelajaran yang ditinggalkan oleh Adnan tidak pernah benar-benar lenyap dari lorong-lorong sekolah itu.
Kelas 11-A kini dipimpin oleh wali kelas baru, seorang guru wanita senior yang ramah. Suasana di dalam kelas tersebut telah berubah total. Tidak ada lagi sistem kasta tak tertulis, tidak ada lagi geng yang mendominasi, dan tidak ada lagi pandangan meremehkan kepada murid-murid dari keluarga sederhana. Anton, Bimo, Andini, Jai, dan Siska kini menjadi benteng utama yang membendung segala bentuk intimidasi di sekolah. Setiap kali ada murid yang mulai bersikap arogan, Anton dan Bimo akan menjadi orang pertama yang menegur dan memberi mereka ketegasan. Tidak hanya di kelas mereka, tetapi di kelas lain dan di angkatan lain. Mereka berlima tidak segan-segan membuat laporan kepada kepala sekolah kalau ada korban intimidasi.
Perubahan radikal itu menjadi bukti bahwa eksperimen keras dan pelajaran pahit dari Adnan tidak terbuang sia-sia, benih keberanian moral telah tumbuh mengakar kuat di dalam jiwa anak-anak tersebut.
Pukul 02.00 WIB.
Guntur menyambar kencang di udara, disusul oleh derasnya hujan yang menghantam atap seng dapur.
Di dalam kamar berukuran empat kali empat meter, Maya mendadak terbangun. Tubuhnya yang kurus bergetar hebat, peluhnya menetes membasahi sweater krem yang dikenakannya. Matanya terbelalak menatap sudut kamar yang gelap, seolah bayangan Reno, pisau lipat, dan sorakan kejam di koridor sekolah dulu kembali hadir mengepungnya.
“G-Gak mau, ampun, jangan,” tukas Maya dengan napas memburu dan terengah-engah. Tangannya meremas dada, mencoba menghirup udara yang terasa begitu menyiksa.
Adnan yang tidur di bawah sontak terbangun dengan wajah yang penuh ketakutan. Meskipun ini bukan kali pertama Maya seperti itu, tetapi kejadian seperti inilah yang membuat dia sangat khawatir.
“Maya, di sini ada abang,” ucapnya sambil mendekap adiknya dalam pelukan.
Setelah Maya tenang, Adnan duduk di tepi ranjang. Ia memberi ruang untuk Maya agar bisa menghirup udara segar.
Tiba-tiba, dengan suara yang sangat pelan, maya menangis, air matanya meleleh deras membasahi pipinya yang tirus. Jarinya menunjuk-nunjuk ke arah sudut kamar yang kosong dengan gemetar.