Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #25

Suara Pertama dan Titik Balik

Bulan kelima sejak kepulangan dari Pulau Sebatu.

Musim hujan di Kota Nusa Bangsa perlahan beranjak berganti dengan kemarau sejuk. Kanvas lukis di teras samping kontrakan Adnan yang mulanya kosong kini telah dipenuhi puluhan karya melukis Maya. Gambar-gambar itu bertransformasi dari coretan garis hitam yang suram di bulan-bulan awal, menjadi hamparan warna-warni bunga matahari, padang rumput, dan pemandangan laut lepas yang terang benderang.

Perubahan warna pada kanvas-kanvas itu menjadi cermin visual dari proses pemulihan jiwa Maya yang perlahan menemukan jalannya kembali dari kegelapan trauma.

Pukul 16.00 WIB.

Sore itu, teras kontrakan Adnan kembali dipenuhi oleh gelak tawa yang hangat. Anton, Bimo, Andini, Jai, dan Siska duduk melingkar di atas tikar pandan. Di tengah-tengah mereka, Maya duduk di kursi sofa kecilnya, mengenakan gaun terusan biru muda.

Bimo sedang memetik gitar akustiknya, memainkan nada-nada lagu santai yang sering mereka nyanyikan bersama saat jam istirahat sekolah. Sementara itu, Andini dan Siska sibuk membantu Maya merapikan tabung-tabung cat minyak di meja.

“Lihat ini, May,” ujar Andini pelan sambil memamerkan sebuah foto berbingkai kayu kecil. “Hari ini di sekolah, Kelas 11-A menang juara pertama lomba kebersihan dan dekorasi kelas. Foto Pak Adnan ... maksudku foto Abang Adnan waktu masih mengajar dulu, masih kami pajang rapi di dinding belakang kelas.”

Anton tersenyum tipis, menimpalinya dari balik lembaran buku pelajaran. “Anak-anak kelas sepuluh yang baru masuk juga sekarang tahu kisah tentang keberanian dan empati yang diajarkan Abang Adnan di pulau. Tidak ada lagi yang berani bikin geng atau menindas murid lain di sekolah kita.”

“Kalau ada yang berani, nih, akan gue hantam dengan dada sebesar ini,” Bimo mengancung dadanya ke depan.

Semuanya tertawa riang.

Di sudut pintu dapur, Adnan berdiri bersandar pada kusen kayu. Pria itu memegang baki berisi cangkir-cangkir teh hangat dan piring berisi pisang goreng renyah. Senyuman tipis terukir di wajahnya. Melihat mantan murid-muridnya tumbuh menjadi sosok pembela kebenaran adalah hadiah terbesar atas segala pengorbanan yang telah ia lalui.

Lihat selengkapnya