Sore itu, Hara dihinggapi terlalu banyak pertanyaan. Dia sedang duduk dengan pikiran penuh mengenai sosok Billa Arawinda yang baru saja dia temui, setidaknya dua kali dalam waktu dan kesempatan yang tak terduga. Hara mengeluarkan ponselnya, memeriksa beberapa pesan masuk, melihat juga data pribadi milik Billa yang sempat Hara ambil dariĀ fileĀ Zain siang tadi.
"Dia kelihatan cantik," gumam Hara tersenyum dengan perasaan miris yang tidak bisa dia ungkapkan. "Harusnya dia baik-baik aja, kan?"
"Baik kok, Bang," potong Zain yang layaknya hantu, duduk di sebelah Hara tanpa laki-laki itu sadari.
Hara tidak menjawab, melainkan hanya melayangkan tatapan menusuk.
Zain yang tadinya tersenyum hendak menggoda, langsung susut dan memilih memasang wajah bodohnya. "Ampun, Bos." Zain menepuk pundak Hara, selain dengan maksud bercanda, juga untuk memberikan sedikit dukungan tak kasat bicara.
"Menurutmu, aku nggak waras karena peduli sama perempuan kayak dia, Zain?"
Mendadak Hara menyimpulkan sendiri mengenai dirinya selama ini, selama dua tahun memimpikan perempuan yang dia pegang tangannya. Hanya sekedar berdiri sebagai sosok pahlawan, lantas membuat Hara merasa memiliki tanggung jawab lebih. Hara menggeleng sendiri sebelum Zain sempat menjawab.
"Perempuan kayak dia, maksudnya?" Zain menatap Hara yang menyadari bahwa kata-katanya terdengar mengerikan.
"Berbeda," lirih Hara menghela napas.
"Dari awal semuanya karena caramu memandang dia secara berbeda, Ra. Bukannya sok bijak, nih." Zain membuat Hara menatapnya. "Menurutku, karena kamu pernah terluka dan tahu gimana rasanya menjadi nggak baik-baik aja, kamu jadi merasa harus bantu orang lain yang juga terluka. Meski, kamu tahu cara kalian terluka itu pasti beda. Pada dasarnya emang kamu orang yang baik, Ra. Maksudku, kamu tipe yan selalu peduli dengan orang-orang di sekitarmu, dan mungkin kepekaan dan kepedulianmu itu yan membuat kamu nggak bisa melupakan perempuan itu. Atau terus mikirin dia karena kamu lihat dia dengan cara berbeda, melihat dia sebagai orang yang berbeda."
Hara tidak mengangguk, hanya memalingkan wajah dari Zain kemudian menghela napas panjang lagi. Hara bukannya merasa bangga atas pujian yang Zain berikan, dia justru merasa bersalah sebab pernah memegang tangan Billa dua tahun lalu. Hanya memegang tangannya, bukan benar-benar menolongnya untuk menjalani hidup. Mungkin, semakin Billa hidup, dia hanya akan merasakan kesakitan. Harusnya Hara saat itu memberikan bantuan lebih.
"Pulang yuk," kata Zain setelah beberapa saat dibuat membisu oleh Hara yang tenggelam dalam lamunannya. "Aku anterin deh, Bos."
"Lah siapa yang nebeng mobilku tadi pagi," jawab Hara dengan mata tajam pada Zain. Kemudian laki-laki dua puluh satu tahun itu segera bangkit dari posisi duduknya, dari ruang BEM yang sunyi.
Sementara, di belakang Hara yang berjalan malas, ada Zain yang bersusah payah membawa beberapa perlengkapan yang harus dia selesaikan sebelum besok pagi. Dia mencibir Hara yang tidak peka untuk membantunya, atau karena Hara sedang malas lantaran pikirannya yang terlampau penuh. Zain hanya bisa merutuki sahabatnya itu.