Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #9

Aku: Seorang Malaikat

Seringkali, aku berharap menjadi bintang yang bersinar di langit saat malam hari seperti sekarang. Ingin menjadi bintang, bukan perempuan dengan gangguan mental dan trauma yang tak terlupakan. Semua orang akan bahagia melihat sinarku, mereka akan selalu menatapku saat malam mereka terasa sunyi seperti malam di balkon kamarku. Mungkin, aku akan tampak cantik dan sempurna jika menjadi bintang, meski bukan satu-satunya. Setidaknya, aku akan merasa lega dan bahagia karena aku berharga meski hanya ketika malam.

Seringkali pula aku berharap menjadi bulan yang selalu berubah dari sabit sampai purnama. Semuanya indah meski bentuknya tak selalu sama, tak sempurna. Sebagai bulan, aku akan mengunjungi malam-malam yang sunyi di atas seorang perempuan depresi di belahan dunia ini, mereka yang bernasib sama sepertiku. Lalu aku akan menyempurnakan malam milik sepasang kekasih yang menikmati berdua mereka. Kemudian menyinari burung hantu dan kelelawar yang terjaga sepanjang malam. Terakhir aku akan diam di langit untuk menyaksikan kehidupan malam yang sunyi itu berakhir menjadi pagi dengan kerendahan hatiku. Aku bahagia bisa berguna sepanjang malam, meski esoknya kamu akan melupakanku sebagai bulan di langit malam.

Membayangnya saja membuat jantungku berdebar kencang, dengan gairah memuncak dari sudut kepalaku sehingga kamu bisa melihat aura bersemangat dari diriku yang berharap menjadi satu bintang berkedip atau bulan sabit di malam hari, meski itu tak sesuai realitanya. Aku harus membunuh harapan itu. Lagi pula, salahku karena membuat sebuah harapan yang tidak mungkin diwujudkan. Bagiku, harapan dan kepercayaan adalah hal berbahaya yang harusnya kuhindari. Sayangnya, aku tidak bisa melawan ekspektasi diri sendiri.

"Memikirkan apa?"

Suara rendah yang terasa lembut itu membuatku menoleh. Amar dengan secangkir kopi yang disesapnya, berdiri di sebelahku. Dia datang ke rumahku seperti datang ke tempat favoritnya, dia masuk ke kamarku dan berdiri di balkon bersamaku sudah semacam rutinitasnya. Kami sudah seperti ini sejak kami kecil, meski dulu latar belakang kami berbeda. Aku yang anak dari pengusaha sukses diperlakukan seperti putri oleh Amar yang merupakan anak dari salah satu asisten rumah tangga di rumahku. Dia menjagaku yang tak pandai bergaul, dan terbuka dengan orang luar. Dia menjagaku dengan tetap berada di sampingku untuk bermain denganku.

Amar dan keluarganya bahkan sudah seperti keluarga untukku, meski status mereka adalah pekerja di rumah besarku. Ibu adalah wanita karir dengan sejuta kesibukan, sementara Ayah merupakan pengusaha dengan urusan tak terselesaikan bahkan sampai akhir pekan, dan aku anak perempuan yang terlalu pendiam untuk punya banyak teman. Saat itu, hanya Amar temanku. Kami melewati setiap hari bersama meski berada di dunia yang berbeda. Dia memperlakukanku seperti putri, dan perhatiannya melebihi Ibuku sendiri. Ibu yang saat itu dipenuhi dengan mimpi dan ambisinya. Ayah lebih menyayangiku, dari pada Ibu, kupikir. Sesekali dia membawaku ke pasar malam atau ke taman kota jika dia tak sibuk kerja, tapi jumlahnya bisa dihitung oleh anak TK.

Sejak kecil Amar bersamaku.

Hingga peristiwa dua tahun lalu, Amar tetap ada di sisiku. Meski, dia tak mengulurkan tangannya kala itu. Rumah yang kutinggali sekarang adalah bantuan darinya saat aku dan Ibu harus menjual rumah besar kami karena biaya pengobatanku—selain karena trauma sialan itu.

Perubahan Ibu yang menjadi lebih menyayangiku juga karena Amar. Semuanya karena dia, jadi dia adalah malaikat tanpa sayap, atau tongkat sihir, tapi mampu memberikan keajaiban. Setidaknya itu yang kupercayai selama ini. Kepercayaan seperti yang kukatakan, hal berbahaya yang harusnya kuhindari. Tapi Amar adalah pengecualianku.

Lihat selengkapnya