Laki-laki dengan paras rupawan yang selalu membuat para gadis mengantri untuk mendapat perhatiannya itu berdecak kesal. Hara berjalan dengan helaan napas di setiap langkahnya, membuat Zain tak berhenti heran. Keduanya sekarang dalam keadaan kelaparan setelah kelas yang membuat kepala mereka hampir pecah di jurusan teknik industri. Hara berjalan lambat, sedangkan Zain sudah melangkah secepat bunyi di perutnya.
Hara berhenti di fakultas yang dia lewati setelah fakultas teknik. Dia melihat seorang laki-laki yang tak asing. Wajahnya terlalu familiar untuk Hara lupakan, apalagi postur jangkungnya. "Sama siapa dia?" ujar Hara sembari mengamati laki-laki jangkung yang tengah bersama seorang perempuan.
Mata Hara terbelalak saat melihat Billa berada di samping laki-laki jangkung yang tak lain adalah Amar. Mereka saling mengenal? Hara menjadi tidak tenang dengan kemungkinan itu. Bahkan dia tak menyadari bahwa semalam, ketika dia berada di depan rumah Billa untuk memberi salam, dia diusir oleh laki-laki jangkung itu. Bagaimana Hara baru menyadari itu? Mereka saling mengenal, apa itu artinya mereka berpacaran? Pikiran Hara menjadi penuh oleh kemungkinan yang dia ciptakan sendiri, bahkan ketika melihat Billa tampak tersenyum.
Hara harus bagaimana? Dia mendekati Billa karena merasa bahwa Billa memerlukan bantuannya, dan Hara ingin mengulurkan tangannya seperti dua tahun lalu. Jika ada seorang Amar di dekat Billa, Hara merasakan semangatnya memudar. Dia bisa melihat dua orang itu tampak dekat, lebih dari pada yang Hara bisa lakukan. Dua tahun lalu dia memang pahlawan untuk Billa, tapi selama dua tahun itu, Hara hanya bisa menjaga Billa di dalam mimpinya. Jadi, langkah Hara terasa berat. Dia mungkin salah karena menyangka Billa masih memerlukan bantuannya. Terlebih sekarang, Hara mulai memikirkan perkataan Zain, bahwa dia jatuh cinta pada Billa Arawinda. Jatuh cinta?
Hara mendengus kesal, lalu secepat kilat menyusul Zain. Keduanya sekarang berada di kantin universitas untuk makan siang. Keadaan di sana ramai karena bertepatan dengan waktu istirahat semua mahasiswa. Tempat-tempat tak tersisa, banyak yang mengantri, dan banyak pula yang memilih pergi untuk mencari tempat makan lain. Hara dan Zain beruntung karena bisa bergabung dengan teman-teman mereka yang sudah ada di sana lebih cepat.
Hara duduk dengan helaan napas, lagi dan lagi dia berpikir keras. Di kanan, kiri, dan depannya, dia sudah ditatap heran, tapi tak ada yang berani bertanya.
"Zain, aku rasa kamu bener, deh," gumam Hara tiba-tiba.
"Soal apa?"
"Kamu bener, aku udah gila karena rasanya aku beneran jatuh cinta," kata Hara lirih dengan tampang putus asa yang membuat teman di sekelilingnya semakin heran.
Hara menyelesaikan kalimatnya tanpa melihat keramaian di sekelilingnya. Mereka merayakan ungkapan jatuh cinta Hara penuh suka cita. Pasalnya, laki-laki yang populer di kampus karena wajah tampan, dan terlahir dengan sendok perak di mulutnya itu tak pernah sekali pun membahas tentang cinta. Dia juga tak pernah dekat dengan gadis mana pun sejauh mereka berteman. Tak ada yang tahu hidup Hara sesungguhnya, keluarga, dan perasaannya. Maka, untuk pertama kalinya Hara mengungkapkan perasaan jatuh cintanya itu, semua teman dekatnya bersorak.
"Sama siapa, Ra? Cantik pasti!" celetuk Jo yang sejak tadi sangat bersemangat.
"Diem!" Zain tahu siapa yang Hara maksud, tentang perempuan dua tahun lalu itu adalah cerita panjang yang didengar dengan baik olehnya. "Kamu yakin, Ra?"
"Hmm."
"Kalo gitu, kamu harus kejar dia. Katanya kamu mau bantuin dia, katanya dia lagi nggak baik-baik aja, kan?" Zain membuat Hara mengangguk lemah, tapi laki-laki yang menjadi ketua jurusan itu paham perasaan Hara tak sesederhana itu. "Terus kenapa lagi? Ya bagiku itu emang aneh kalo kamu jatuh cinta sama dia setelah dua tahun lalu, tapi yang namanya perasaan nggak ada yang salah, Ra. Aku semalem udah kasih tips and trick, kan? Mulai aja!"
"Hidup Pak Zainal!" Jo lagi-lagi bersorak dengan makanan di mulutnya, sementara yang lain mengikuti.
"Masalahnya," lirih Hara lagi membuat kawan-kawannya terdiam. "Masalahnya, ada orang lain di sebelahnya selama dua tahun ini, Zain. Bukannya aku udah kalah start, ya? Bukan cuma buat jatuh cinta, tapi buat bantuin dia baik-baik aja?"
"Terus mau nyerah gitu?" Jo yang merebut ucapan Zain, dia dengan semangat mendekat pada Hara. "Harus tetep berjuang, Ra. Mau dia ada di sebelahnya dua tahun, lima tahun, atau sepuluh tahun pun, kamu selalu punya kesempatan."
"Bener, tuh." Zain menimpali.