Gambar lengkungan senyum dengan bentuk wajah bulat di kertas bergaris biru, kupandangi di bawah pohon bungur. Aku duduk di bangku sendirian, menunggu Amar selesai dengan acara orientasi mahasiswa baru yang tidak kuikuti. Meski begitu, aku tetap datang ke universitas untuk absen, lalu menunggu sampai sore dengan sendiri yang mendebarkan.
Sudah seminggu aku memperhatikan gambar itu. Katanya gambar wajah itu adalah wajah paling tampan di universitas. Katanya sampai jumpa besok, tapi dia tidak datang setelah seminggu. Itu artinya aku kalah oleh harapanku sendiri? Tunggu, harusnya aku tak pernah berharap dia akan datang. Harapan adalah hal berbahaya yang harus kuhindari—jika para pria itu datang lagi.
Di tempatku duduk, bunga bungur sudah tak banyak tersisa. Semuanya telah terbang dibawa angin, lalu berhambur di tanah, disapu dan berakhir di tempat sampah. Bunga-bunga yang masih menempel di dahannya, satu persatu jatuh menimpa tanah, mereka bernasib malang seperti yang sebelumnya. Yang terbang perlahan, kutangkap satu kelopaknya. Bunga merah muda tipis itu berada di telapak tanganku, tampak rapuh dan menyedihkan. Aku ingat, dia mengatakan menangkap kelopak bunga ini bisa membuat keinginanku terkabul, meski hanya pengganti sakura yang tak tumbuh di sini. Aku menangkapnya, lalu tanpa sadar aku membuat keinginan.
Terkadang aku percaya sebuah keajaiban, lalu terkadang lagi aku mengutuk diriku yang berani memiliki keinginan untuk terkabul. Perempuan sepertiku, yang telah terjajah dan habis dipermukaan, tak mungkin pantas. Aku sudah penuh luka lebam-lebam, penuh lumuran darah yang terus menetes dari mataku, dipenuhi amarah dan rasa putus asa. Meski, semua tetap tak kasat mata. Aku perempuan sakit jiwa, yang terus berpikir aku baik-baik saja sebelum para pria itu datang. Bahkan, aku berani menjadi mahasiswa di jurusan seni rupa. Aku membawa alat lukisku yang sederhana sekarang, pensil dan buku sketsa. Aku akan menggambar sesuatu yang bersifat darurat, misalnya saja saat para pria itu datang.
Bunga bungur berada di telapak tanganku, lalu tertiup angin, dan terbang. Menghilang bersama kelopak bernasib malang lainnya. Kenapa Tuhan menciptakan bunga bungur yang indah hanya untuk membuat mereka hilang tertiup angin? Mereka cantik, tapi rapuh. Mereka indah, tapi tak bahagia. Mereka berpisah dari satu sama lain, dan mereka meninggalkan dahannya. Mereka adalah bunga merah muda yang hebat. Aku kagum sekaligus kasihan.
"Hai."
Aku menoleh pada suara itu. Laki-laki dengan jaket jeans biru tua, dan rambut berantakan itu tersenyum padaku. Tangannya melambai, dan dia berjalan mendekat. Aku tidak bisa apa-apa, selain terkejut. "Kamu ... " kataku segugup bunga-bunga yang baru hendak mekar.
"Aku? Kamu nggak lupa denganku, kan?" Dia bertanya dengan senyum masih merekah, lalu dia menunjuk ke wajahnya dengan telunjuk dan jempolnya membentuk huruf V. "Aku ... Si laki-laki paling ganteng di kampus. Kamu masih simpan gambar wajahku, kan?"
"Wajah payahmu?" tanyaku.
Dia tersenyum dengan mudahnya sampai aku heran sendiri. "Aku masih anggap itu pujian, ya."
"Aku bisa menggambar lebih baik," kataku dengan buku sketsa kuberikan padanya dengan kasar dan canggung. Aku sangat tak pandai bersikap pada orang asing yang namanya tak kuingat, tapi wajahnya selalu terngiang.
"Wah!" Dia bersorak saat melihat gambarku. "Siapa laki-laki ganteng, penuh karisma dan memesona ini?"
"Itu kamu, bodoh!" Aku tidak tahu bagaimana kata kasar yang keluar dari mulutku, tapi aku berusaha menahan senyum saat melihat ekspresi wajahnya. Menggelikan.
Tunggu, apa?
"Apa aku seganteng ini? Wah, pertama kali aku merasa bangga dengan wajahku."
Dia duduk di bangku, lalu bunga bungur seketika gugur dengan angin yang menerpa rambutnya. Wajahnya menjadi terlihat jelas, hidungnya yang runcing, dan bibirnya tipis mengukir senyum ringan. Dia terlihat sama dengan dua tahun lalu. Dia bukan sekedar orang yang mengulurkan tangannya padaku sebelum aku bunuh diri. Namun, dia yang datang dengan segala keanehan saat kami sama-sama dirawat di rumah sakit itu. Saat itu, dia sama sekali tidak terlihat sakit. Dia hanya mengenakan pakain yang sama denganku, tapi dia bukannya terbaring dan diinfus, dia berjalan mengelilingi rumah sakit seperti orang gila. Kupikir saat itu dia adalah pasien rumah sakit jiwa. Ajaib aku bertemu dengannya lagi.
"Kamu ..." Dia menoleh padaku sehingga aku mendadak kehilangan kalimat di tenggorokanku.
"Kenapa?"
"Tidak."