Suasana cukup ramai ketika Hara duduk dengan kesal di depan ruang BEM. Di dalam sana masih terlaksana rapat evaluasi kegiatan orientasi yang telah berlangsung selama satu minggu kemarin. Laki-laki dengan seragam khas mahasiswa teknik itu sekarang memainkan ponselnya, mencari sesuatu yang berguna untuk membunuh waktu. Pasalnya, dia harus menunggu Zain menyelesaikan kegiatan itu.
"Maaf, kamu ada perlu apa?"
Sebuah suara membuat Hara mendongak dari duduknya. Dia mendapati seorang perempuan dengan rambut panjang tergerai, mengenakan kemeja putih panjang yang lengannya tergulung, dan celana jins longgar, serta wajah yang tak tampak ramah.
"Nunggu temen," jawab Hara singkat.
"Oh gitu, jadi bisa tolong minggir sebentar atau tunggu teman kamu di sebelah sana," kata perempuan itu sambil menunjuk area kursi panjang di ujung lorong yang jauh. "Saya perlu duduk di sini, dan kayaknya kamu menganggu rapat BEM."
"Ganggu di bagian mana, sih?"
"Bagian kamu duduk di sini, itu ganggu!"
"Songong!"
Tak ada yang bisa dilakukan laki-laki itu, selain dia mengalah. Hara dengan tersungut-sungut beranjak dari duduknya, dia pergi ke ujung lorong. Dari kejauhan dia mengamati perempuan itu, lalu Hara baru menyadari bahwa dia adalah ketua BEM. Hara berdecak kesal, dia ingin memaki, tapi tidak bisa karena suasana ramai. Jika dia berteriak, atau mengatakan hal buruk tentang si ketua BEM, tamatlah riwayatnya sendiri. Hara merapatkan diri dalam duduknya, mengamati lagi ponselnya dengan segala informasi yang masih dikumpulkan. Tentang Amar yang dekat dengan Billa masih menjadi pikiran panjang Hara, meski dia mendengar dengan jelas bahwa Billa mengatakan mereka bersahabat.
Setelah lama Hara terjatuh pada lamunannya-pada pikiran tentang dua tahun lalu dan tentang Billa Arawinda—sekarang dia mendongak menatap pada pintu ruang BEM yang dibuka selebar dua langkah kaki mahasiswa. Seorang perempuan yang Hara lihat sebelumnya, dan seorang laki-laki jangkung yang Hara hafal geral-geriknya keluar dengan senyum serta obrolan hangat. Hara segera bangkit, lalu mendekati mereka. Namun, langkahnya ditahan oleh seseorang.
"Mau ke mana?" Zain berada di belakang Hara dengan wajah lelahnya.
"Siapa perempuan yang sama Amar?"
"Kok kenal Amar?" Zain mengerutkan keningnya saat Hara menceritakan bahwa Amar adalah laki-laki yang selama ini menjaga Billa, yang membuat Hara hampir melewatkan kesempatannya.
"Perempuan itu ketua BEM, namanya Shana, anak jurusan kedokteran."
"Kenapa mereka keliatan akrab?"