Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #13

Aku: Penjahat Bertopeng Malaikat

Terkadang aku bingung dengan beberapa situasi yang terjadi di dalam hidupku. Lalu aku berpikir keras seolah pikiranku sehat. Padahal, separuh dari diriku telah lenyap bersama kejadian dua tahun lalu. Tetap saja, meski aku tahu itu sia-sia, aku tetap berpikir sekeras baja. Kadang sampai kepalaku berdenyut, dan aku terkulai lemas karena memikirkan terlalu banyak hal. Kadang kala lagi, keluar darah dari hidungku. Aku tidak tahu apa itu normal, Pak Han hanya mengatakan bahwa aku kekurangan vitamin dan zat besi.

Sumber pikiranku adalah kejadian beberapa hari lalu, saat Hara dan Pak Han bertemu. Mereka saling mematung seolah mereka memendam sesuatu yang dalam, dan tak terjelaskan. Aku menjadi ingat bahwa Hara pernah menceritakan bahwa dia membenci papanya. Mungkinkah Pak Han yang dia maksud?

Aku bahkan sudah tidak bertemu denganya sejak hari itu. Di universitas, di fakultas seni, atau di bawah pohon bungur, pun dia tidak menghampiriku seperti yang dia lakukan sebelumnya. Aku tidak bisa mengubunginya karena aku tidak memiliki ponsel. Aku menjadi resah dan penasaran, juga rasa khawatir yang aneh. Itu sangat mengganggu. Memikirkan orang lain selain Amar dan Ayah adalah hal ajaib yang kulakukan setelah membebaskan diri dari rumah sakit jiwa. Aku bisa memikirkan orang lain sampai pada rasa khawatir, jadi apa itu artinya aku normal? Tak bisa kuyakini, aku masih gila. Sama seperti sebelumnya.

Untuk itu, aku masih memerlukan Pak Han. Hari ini adalah janji bertemu untuk konsultasi dan perawatanku yang masih intensif. Aku akan membuatnya bercerita tentang hubungannya dengan Hara seperti yang biasa dia lakukan untuk membuatku jujur dalam setiap ceritaku. Strategi dokter jiwa sudah kuhafal sejak dua tahun lalu, tapi aku tidak tahu apakah itu berhasil berumpan pada mereka lagi. Aku menjadi berdebar saat menghadapi Pak Han. Dia duduk di hadapanku dengan jas putihnya bersinar, sepatu hitamnya mengkilap, dan wajah tuanya tersenyum teduh. Jika kulihat, senyum itu persis sama seperti milik Hara.

"Selamat pagi, Billa." Pak Han membuka suara dengan senyum masih melekat. "Bagaimana harimu kemarin? Ada cerita menarik? Ah iya, obatmu akan dikurangi."

"Aku suka semua permen pahitnya, kok, dok," jawabku dalam satu tarikan napas, datar, dan lirih seperti biasanya. "Dan aku hanya duduk di bawah pohon sendirian karena Amar sibuk!"

"Baiklah," kata Pak Han membuka tas hitamnya. "Mari kita mulai ke pemeriksaan fisikmu."

Lihat selengkapnya