Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #14

Dia: Mendamaikan Rasa Benci Itu

Bunga yang mekar, tak pernah bertahan lama. Mereka hanyalah sebuah indah yang sia-sia. Waktu tetap akan merenggut mekar mereka, layu tak bersisa. Begitu halnya dengan perempuan yang sekarang hangat di pikiran Amar, laki-laki jangkung yang sedang menyesap kopi itu termenung. Dia sibuk berlama-lama dengan sunyi, padahal seorang perempuan lain sedang menatapnya lekat.

"Pasti soal Billa lagi, kan, Mar?" tanya perempuan dengan rambut lurus panjang yang dibiarkan menggerai di pundaknya. Dia mendengus kesal, sudut bibirnya diraba lidahnya sendiri. "Kapan kamu berhenti mikirin dia, sih Mar? Sehari aja. Ah enggak, semenit aja, selama kamu sama aku."

"Maaf, Na." Amar menunduk dengan matanya yang cekung, dan lingkaran hitam di sekitarannya. Laki-laki jangkung itu tidak tidur hampir semalaman penuh karena Billa terus menangis, berteriak, melempar barang, dan berupaya menyakiti dirinya sendiri. Lagi. Alasannya sepele, Billa tidak mau dirawat oleh Pak Han lagi. Padahal, Billa sangat sulit beradaptasi dengan orang baru, termasuk dokter jiwa. Tentu saja perihal urusan Billa itu cukup menyita pikiran Amar.

"Kamu kan tahu siapa prioritasku," kata Amar lagi menghela napas.

"Tapi, mau sampai kapan aku jadi nomor dua?" Shana menatap tajam dengan napas yang tak teratur, tapi dia adalah mahasiswa jurusan kedokteran, dia paham betul situasi dirinya sendiri. "Aku pacar kamu, Amar. Aku tahu Billa sahabatmu dari kecil, dan dia butuh kamu. Aku tahu itu, aku paham. Tapi, seenggaknya kamu bisa peduli sedikit sama perasaanku juga, kan?"

"Maaf, Shana." Hanya kata itu yang mampu Amar pikirkan di hadapan kekasihnya. Bukan perkara tidak cinta atau semacamnya, tapi dia memiliki tanggung jawab besar terhadap Billa. Tanggung jawab dan rasa keharusan melindungi Billa telah merenggut segala sisi di diri Amar. Demi perasaannya sendiri menjadi baik-baik saja, dia harus selalu membuat Billa dalam keadaan baik-baik saja. Meski rasanya itu sesulit meniti seutas tali di atas jurang. Amar tetap melakukannya.

Shana menghela napas, lalu meminum latte-nya yang terlanjur menguar dingin. "Katamu Billa butuh dokter jiwa baru, kan? Aku kenal baik sama Pak Han, biar aku yang urus Billa. Bagaimana?"

"Kamu yakin?"

"Hmm," gumam Shana. "Lagi pula, Billa orang yang berharga buat kamu, Amar, dan aku perlu mempraktikan ilmu yang sudah aku pelajari, tahun depan aku berencana mengambil spesialis kejiwaan."

"Kamu udah memutuskan ambil spesialis?" tanya Amar sambil menghela napas.

"Ada apa?" Shana melihat raut wajah kekasihnya itu kusut. "Kamu sedih kita nggak bisa lulus bareng, karena aku akan lulus lebih lama? Atau kamu masih kepikiran Billa dan merasa bersalah lagi?"

"Kamu harus tahu, Shana, aku melakukan semua ini bukan cuma demi Billa, tapi demi menebus sesuatu di masa lalu. Keluarga Billa berjasa buat aku dan keluargaku, Ayahnya yang membiayaiku sekolah, memberiku rumah, dan memberiku apa yang nggak aku punya. Bapakku sendiri masuk penjara, dan aku bertanggung jawab atas kesalahan bapakku itu dengan menjaga Billa." Amar menghela napasnya lagi. "Maksudku, aku cuma merasa … kita mungkin nggak setara, orang-orang juga akan berpikir begitu, kan?"

Lihat selengkapnya