Aku mulai lagi. Hari yang gelap dalam hidupku menyalak berulang-ulang. Dia—sisi lain dari dalam diriku—memaksaku untuk berontak dan kembali seperti dulu. Bukan hanya sekedar perempuan gila, tapi aku terlihat mirip monster yang siap memakanmu hidup-hidup jika berani mengusikku. Aku monster yang siap membunuh diriku sendiri, siap untuk menikmati rasa sakit dalam kematian. Jika saja para pria itu datang lagi, baik di hadapan mataku, atau di dalam pikiranku. Semuanya mengabu.
Aku duduk di pojok kamarku, memeluk lutut dengan gemetar yang hebat. Hari silih berganti, gelap, lalu bermatahari, lalu gelap lagi. Semua rasanya sama, hampa dan senyap. Aku meniduri pikiran gilaku sendiri. Tidak ada Pak Han, dia penipu dengan sikap yang baik. Aku sudah membuatnya lenyap dari mataku, tapi Hara tetap tak menemuiku juga. Sudah sangat lama. Katanya dia ingin menjadi teman, apa seorang teman meninggalkan? Atau aku yang terlalu berharap dia datang hanya karena aku merasa kami senasib? Perempuan gila sepertiku harusnya tidak pernah berharap! Sebuah harapan, meski sekecil putik bunga bungur, atau setipis kelopak bunganya, adalah hal paling berbahaya. Harapan adalah musuh besar bagi kenyataan. Tidak ada harapan, maka kau tidak akan menemukan kenyataan yang mengecewakan.
Berhari-hari pula Amar tidak datang. Dia yang kupikir malaikat juga meninggalkan. Tapi, aku tetap percaya Amar, hanya dia satu-satunya. Meski Ibu datang memberiku makan, meminumkanku obat, menggantikan pakaianku, atau merapikan rambutku, dia tetap saja penyebab bunuh diri Ayah. Dia yang merenggut separuh jiwaku, dan dia sekarang selalu bersikap baik padaku. Aku tahu Ibu menyayangiku, setelah dia kehilangan Ayahku. Dia tidak menyadari bahwa kebaikannya hanya menyakiti kebencianku. Aku tidak bisa berdamai dengan rasa benci, tidak akan pernah tumbuh maaf untuk kesalahan paling naif yang Ibu lakukan. Katanya Ayah sibuk bekerja, dan dia sibuk dengan karirnya, maka mereka memiliki cinta pribadi mereka sendiri. Ayah dengan uang-uangnya, dan Ibu dengan laki-laki yang menurutnya mengerti tentang dirinya. Ayah yang depresi lalu bunuh diri karena tak memiliki siapa pun kecuali uangnya, dan Ibu yang bersikap baik demi menebus kesalahannya. Mereka adalah hal kontras tak tahu malu yang harus kuhadapi.
Sekarang aku sendirian di kamarku memikirkan bagaimana baiknya untuk segera mati. Di hadapanku hanya ada hamparan kosong. Balkon dikunci Ibu agar aku tidak berpikir untuk melompat dari sana, padahal aku tahu bahwa ketinggian semacam itu tidak cukup untuk membuatku mati. Lalu, seisi kamarku dikeluarkan, hanya menyisakan tempat tidur dan beberapa alat melukis milikku. Semua benda yang berpotensi kugunakan untuk bunuh diri telah diambil oleh Ibu sejak aku mengusir Pak Han keluar dari pekerjaannya merawatku. Sekarang hanya kehampaan, menunggu waktu untuk mati secara alami, seperti yang Tuhan kehendaki. Dan sejujurnya, duduk dalam hampa nan kosong ini lebih menyiksa daripada menusuk perutku dengan pisau dapur, atau memotong urat nadiku dengan pecahan kaca.
Lalu, berdetik kemudian, pintu kamarku diketuk dengan sopan. Ketukan asing yang misterius itu menampilkan wajah yang juga asing. Dia tersenyum dengan wajah hangat, rambutnya panjang diikat rapi, dan dia datang bersama Amar di belakangnya. Aku tidak terkejut, dia pasti dokter jiwa baru, atau kenalan Amar untuk merawatku. Dia tahu aku benci bertemu orang baru, dan aku memilih menenggelamkan diriku di antara lututku, merapatkan kakiku dengan gigil yang anehnya menyusup tanpa terkendali.
"Selamat sore, Billa." Aku mendengar suara perempuan itu, nadanya terasa ramah. "Boleh aku memperkenalkan diri?"
Aku tidak menjawab, tidak peduli juga. Yang dia lakukan tentu melanjutkan apa yang telah dia mulai. Dia menyentuh tanganku, membuatku terkejut dan langsung menepisnya kasar sehingga Amar secara mengejutkan juga langsung menghampiriku. "Billa, kamu nggak boleh begitu," kata Amar dengan suara lirih yang kudengar tak seperti dirinya. Nada bicaranya seolah dia menyalahkanku karena menepis tangan orang asing itu.
"Billa, kedatanganku ke sini hanya untuk berteman denganmu." Aku tetap tidak peduli dengan suara perempuan itu, aku tidak bergerak lagi dari posisiku sebelumnya. Tapi, kudengar lagi dia menarik napas, siap untuk kalimat berikutnya. "Namaku Shana, aku temannya Amar. Jika kamu teman baik Amar, berarti kamu juga teman baikku. Kamu mau berteman denganku, kan?"
"Tidak." Kata yang keluar dari mulutku hanyalah erangan tidak jelas, tapi masih bisa dipahami mereka.
"Billa," kata Amar dengan mengangkat dua tanganku. "Ayo bangun, kamu nggak boleh seperti ini terus, okey?"