Hara yang terlampau susut sayu menengadah di antara pintu ruang ICU. Sudah berjam-jam dia duduk termangu di sana dengan pikiran yang tidak kalah brutal dari perasaannya. Di sampingnya, datang seorang gadis remaja yang tersenyum canggung pada Hara, tangannya menyentuh pundak Hara dengan perasaan yang tertimbun dalam. "Kak Hara," katanya lirih.
Hara mengangkat kepalanya, menatap Lea yang memberikannya sekotak susu coklat. Gadis remaja yang merupakan adik tirinya itu sekarang duduk di samping Hara, matanya menatap Hara seolah ingin mengatakan sesuatu yang tertelan oleh tenggorokannya sendiri. "Kak Hara pasti benci banget sama aku, kan?" lirih Lea dengan meremas ujung bajunya.
"Iya."
"Aku nggak masalah kalo Kak Hara benci sama aku atau sama Mama karena emang harusnya gitu. Tapi, tolong jangan benci sama Papa. Dia sayang banget sama Kak Hara dari dulu, kasih Papa kesempatan sebelum Papa pergi, Kak."
Perkataan Lea membuat jantung Hara hampir meledak, pikirannya menguar tak berujung, dan rasa bencinya yang mengelupas aneh. Dia khawatir pada pria setengah baya yang sekarang hanya bisa dia intip melalui lubang di pintu ruang ICU. Hara bahkan tidak tahu bahwa selama ini papanya sakit parah.
"Papa sakit apa?" lirih Hara tanpa menatap Lea.
"Pneumothorax," lirih Lea membuat dada Hara terasa sesak dengan napas yang tersendat. Kemudian Lea menatapnya, memulai sebuah cerita yang panjang.
"Dua tahun lalu, Papa cedera paru-paru parah karena patah tulang rusuk, Kak. Waktu itu nggak parah, jadi Papa nggak mau perawatan instensif buat paru-parunya. Papa emang nggak pernah cerita kalo penyakit Pneumothorax itu sering kambuh setahun belakangan ini. Katanya Papa nggak mau bikin keluarganya khawatir. Tapi, sebulan ini kondisi Papa makin parah, Kak. Dan cuma Kak Hara yang Papa pikirin, cuma maaf dari Kak Hara yang Papa minta, dan Papa nggak mau kasih tahu kakak soal penyakitnya karena Papa nggak mau Kak Hara maafin Papa cuma karena Papa bakal meninggal."
"Papa nggak akan meninggal, Lea!" Hara berkata keras setelah menyadari betapa kesulitan yang dialami Papanya tak pernah dia pedulikan. Dia justru hanya memedulikan dirinya sendiri. "Maafin gue karena gue benci sama Papa!"
Penyakit Pneumothorax yang mendera Pak Han adalah kondisi ketika udara terkumpul di rongga pleura, yaitu ruang di antara paru-paru dan dinding dada karena adanya cedera di dinding dada atau robekan di jaringan paru-paru. Dampaknya, paru-paru jadi mengempis (kolaps) dan tidak bisa mengembang. Hal ini dialami Pak Han karena sebuah tragedi dua tahun lalu, yang tidak seorang pun tahu. Bahkan Lea atau Hara sekali pun.
"Kak Hara nggak salah." Lea menghela napas. "Kalo pun aku jadi Kakak, aku pasti juga bakal sebenci itu. Karena aku dan Mama udah ambil Papa dari Kak Hara dan Mama Kakak. Adanya aku itu kesalahan Mama, bukan Papa. Aku anak haram, Kak. Aku nggak tahu siapa papaku yang sebenarnya, dan Papa Handoko, Papa Kakak yang menyelamatkan Mama dan aku sampai sekarang. Papa nggak mau cerita itu karena dia takut buat aku terluka, dia takut aku bakal benci sama Mama. Aku yang salah atas hidup Kak Hara yang menderita. Maafin aku, Kak."
Lea menangis tanpa suara. Dia menjadi sangat malu atas kenyataan yang dia ceritakan pada Hara bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Pak Han, dia hanya diselamatkan. Hara yang tak bisa percaya dengan mudah hanya terkulai lemas oleh kenyataan bahwa papanya tidak sejahat yang dia kira selama ini. Dia hanya salah paham, dan tidak pernah mau mendengarkan saat papanya ingin mengatakannya. Hara bersalah atas apa yang melukai dirinya sendiri, dan sekarang Lea yang menanggung rasa bersalah itu. Kesalahpahaman yang terlanjur mengakar sampai pohonnya tumbang.
"Maafin aku Kak, tapi Kak Hara harus tahu kalo Papa sayang banget sama Kakak." Suara Lea terdengar bergetar ketika dia menahan isaknya. Tangan Hara yang kaku seketika menghapus air mata adiknya yang bahkan tidak sedarah itu. "Maafin aku yang selama ini kasar sama Kak Hara, karena aku cuma mau Kak Hara benci sama aku. Aku pikir itu pantas buat aku, Kak."