Aku langsung berjalan keluar saat kudengar suara ribut dari luar rumahku. Aku bisa mendengar suara Amar berteriak, dan itu pasti karena dia bertemu Hara. Amar tak pernah suka jika aku bercerita tentang Hara, katanya laki-laki itu aneh dan bisa menganggu ketenanganku. Padahal, ketika bersama Hara adalah saat-saat yang menyenangkan karena kami memiliki nasib yang sama.
Aku keluar secepat embusan angin pada tirai di sisi jendela rumahku. Aku bisa melihat Hara dan Amar sedang bersitegang. Mata mereka penuh kilat, bahkan tangan Amar tampak mengepal seolah siap meninju Hara kapan pun. Aku keluar untuk menghampirinya, di belakangku Shana mengikuti.
"Ada apa?" tanyaku saat melihat Amar meregangkan tangan untuk menghadangku.
"Ada pengganggu di sini," kata Amar yang ucapannya terdengar bukan dirinya yang kukenal—yang biasanya sangat lembut. "Kamu lebih baik masuk, Billa."
"Enggak, Billa aku perlu kamu." Hara menyela sebelum aku sempat mencerna keadaan. "Kita harus membicarakan sesuatu yang penting, soal papaku."
"Papamu?" Amar bertanya dengan tangannya memegang satu kerah leher jaket biru denim yang Hara kenakan. "Jangan membahas apa pun yang bisa mengganggu Bila. Lebih baik kamu pergi, kamu hanya orang asing di sini!"
"Billa," lirih Hara.
Matanya menatap padaku dengan lekat, dan aku bisa melihat sesuatu yang aneh di sana. Aku memang tak tahu bagaimana perasaan Hara setelah dia menghilang lama dariku, tapi aku masih kenal tatapan matanya itu. Hara mungkin sedang terluka atau tidak baik-baik saja. Aku sangat peduli padanya sejak aku meras kami senasib. Aku dan dia juga berteman, jadi aku harus membantunya seperti dia membantuku dua tahun lalu, atau beberapa minggu lalu. Tidak peduli jika Amar melarangku.
"Hmm," gumamku melepaskan tangan Amar yang menghadangku. Lalu, laki-laki jangkung itu menatapku, matanya seolah khawatir, tapi juga marah di waktu bersamaan. "Amar, aku harus pergi dengan Hara sebentar, ya?"
"Kalau aku bilang jangan, kamu tetap pergi, kan?" tanya Amar seolah membuatku harus memilihnya atau Hara, dan itu membuatku merasa bersalah.
Tentu saja, yang membuat Amar akhirnya mengangguk adalah tangan Shana, dan senyum perempuan itu saat mereka saling menatap. Aku tidak tahu ada apa di antara mereka, tapi aku merasa telah kehilangan Amar dan mendapat teman baru dalam waktu yang sama.
"Pergilah," kata Amar dengan lirih dan matanya tetap mengawasi Hara.
Mobil merah milik Hara yang dulu membuatku bertemu dengannya, kini kunaiki. Kami menuju tempat yang Hara kehendaki, aku tidak tahu itu di mana. Jalanan yang kamu lewati begitu sejuk, dan tidak banyak kendaraan yang lewat. Sunyi menderapku, dan aku melihat Hara tersenyum menatapku sesekali. Tapi, tidak ada yang bicara di antara kami. Aku cukup gugup, dan diserang oleh perasaan misterius yang membuat dadaku sesak. Aku tidak tahu, yang pasti aku bingung harus membahas apa.
"Kamu nggak marah denganku?"
Hara membuka suara saat kami sudah berhenti di suatu tempat dengan danau yang meluas sejauh sudut pandangku, beberapa pohon tinggi dan besar, disertai rumah pohon di salah satunya. Di bawah pohon itu, ada bangku panjang yang menghadap ke danau, ada beberapa alat pancing, jaring, dan kail.