Hari itu Amar menatap dirinya melalui cermin di kamarnya. Matanya menyapu seluruh dirinya yang berdiri tegap dengan tubuh jangkung, bahu yang tidak terlalu lebar, dan kulit sawo matangnya yang tampak gelap di antara cahaya lampu yang remang. Amar menghela napas yang terasa terhambat di salurannya, seperti ada hadangan untuk setiap embusannya. Amar miris, ngeri, dan tercenung menatap dirinya sendiri.
Teringat dia kejadian hari lalu ketika seorang laki-laki datang ke rumah Billa, dan sedikit membuat keributan dengannya. Hara, laki-laki itu diingatnya dengan sangat dalam. Amar tidak pernah menyadari jika dia sudah sering bertemu dengan laki-laki yang memiliki gaya rambut menutupi dahi, dan wajah yang tampak selalu ingin menantang, atau bahasa mudahnya belagu itu. Amar terheran, bagaimana Hara tahu sesuatu tentang dirinya dengan sangat detail. Napas Amar menjadi sesak saat mengingat Hara.
Samar-samar percakapan dengan Hara menguar di kepala Amar. Di depan rumah Billa, saat siang masih terasa terik dengan angin gersang yang membawa daun-daun kering. Amar tengah duduk di teras saat dia membiarkan Shana mengambil alih perhatian Billa. Kemudian datang mobil merah, parkir di depan gerbang, dan seorang laki-laki dengan jaket jeans biru melambai-lambai ke arah balkon. Amar tahu itu arah kamar Billa, sehingga dia dengan cepat bangkit untuk melihat orang gila macam apa yang tersenyum selebar kepercayaan dirinya di rumah orang asing.
Tentu Amar naik pitam karena Hara di sana persis kejadian di malam lalu, beberapa waktu sebelumnya. Hara yang melambai seperti orang tak waras kemudian Amar tegur. "Siapa kamu berani datang ke sini lagi?" tanya Amar dengan ketegasan di sorot mata dan nada bicaranya.
"AKu Hara dan itu bukan urusanmu," jawab Hara yang tersenyum sembari melipat dua tangannya di dada, khas seperti yang Amar citrakan di perspektif penilainnya tentang Hara, belagu. "Aku mau ketemu Billa, tolong minggir, kakimu ngehalangin jalan!"
"Jaga bicaramu, ini bukan tempatmu!"
"Dan aku tahu ini bukan tempatmu juga!"
Hara yang tadinya memasang wajah belagu dan tangan melipat di dada, kini tersenyum pias dengan sorot mata yang tajam. Sedangkan, Amar menghela napas panjang, lalu menatap Hara dan berkata, "Jadi kamu dendam? Kata-katamu itu adalah kata-kata yang kuucapkan di depan ruang BEM beberapa waktu lalu! Iya, kan?"
"Iya, kenapa?" Hara menatap Amar semakin keras dan sangat tajam seolah dia memendam sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan. "Lagi pula, aku tahu kalo kamu bukan orang yang tepat untuk ada di sisi Billa. Kamu cuma merasa bersalah sama dia karena kejadian dua tahun lalu. Kamu sama sekali nggak tulus, Amar!"
"Kita nggak pernah saling kenal, tahu apa kamu soal dua tahun lalu?!" Suara Amar terdengar bergetar, dan matanya yang biasanya teduh menjadi berbinar keruh. Napas Amar juga terasa berembus kasar, kemudian yang paling terlihat jelas adalah tangannya yang mengepal dan siap membuat Hara babak belur. "Jangan mengarang cerita!"
"Sebelumnya kita harus perkenalan dengan sopan. Biar aku mulai!" Hara berbicara dengan makna paradoks, sementara Amar diam dengan pikirannya yang penuh sesak oleh sesuatu hal yang tidak terkatakan. "Namaku Hara. Papaku adalah dokter jiwa Billa sebelumnya, Pak Han. Aku kenal Billa sejak dua tahun lalu karena aku yang selametin dia saat dia mau bunuh diri. Dan satu hal paling penting adalah aku tahu apa yang terjadi sama Billa dua tahun lalu sebelum dia depresi dan hampir bunuh diri. Aku juga tahu siapa pelaku dari semua itu, dan apa hubungannya sama kamu!"