Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #19

Aku: Kotak Musik dan Dia yang Datang Seperti Harapan

Sudah sering kualami perasaan gila yang tak tertahan. Ketika aku melihat dua kaki pucat Ayah menggantung di atas kepalaku, saat aku menangis di antara galian kubur untuk Ayah, saat aku mengetahui fakta Ibu dengan kesenangan malamnya, saat kuingat malam itu turun hujan dengan derap kaki menuju kamarku, saat aku kehilangan diriku setelah dijamah, dan saat para pria itu datang. Perasaan gila semacam itu adalah aku. Sudah terlampau sering aku merasakan kepala yang berdenyut hampir meledak, dan jantung berdebar seolah malaikat akan mencabut nyawaku. Semuanya adalah hal biasa bagi perempuan gila sepertiku.

Namun, pernyataan jatuh cinta sangat tidak masuk akal untukku. Seorang aku tidak pantas untuk kata megah nan romantis itu, kata yang menggairahkan. Aku gila, dan aku tidak butuh cinta. Aku punya Amar, dan itu sangat cukup untuk membuatku bernapas sampai besok—jika ilusiku tentang para pria itu tidak datang. Perihal ungkapan jatuh cinta itu, meski mustahil dan tak masuk akal, sialnya justru mengekal di kepalaku. Bergelayut percakapanku dengan Hara tempo hari itu, dan senyumnya yang hilang saat aku menyebut Amar. Apa aku mematahkan hatinya? Sampai perjalanan pulang, saat aku duduk bersamanya di dalam mobil, dia tidak bicara, bahkan tidak tersenyum.

Aku duduk di dekat jendela sembari memandang ke luar dengan harapan mungkin saja dia akan melambai di depan pagar rumahku dengan senyum merekah seperti sebelumnya. Aku mengamati seperti orang bodoh, dan aku melupakan bahwa harapan adalah hal berbahaya yang harus kuhindari. Anehnya, harapan tidak bisa kuhilangkan jika pada Hara sebab jika aku berharap dia datang, maka dia memang sungguh menghampiriku dihari sebelum ini. Dan untuk harapanku kali ini, yang sangat ambigu ini, aku mencoba mempercayainya. Meski, tidak ada tanda bahwa akan melambai tangan itu padaku lagi.

Hujan merinai, kemudian terang datang beberapa saat kemudian. Tidak ada pelangi, tidak ada pias cahaya apa pun di langit yang kutatap. Hanya ada basah di mana-mana. Basah di pepohonan di sekitar jalan, basah di bunga-bunga yang tumbuh di halamanku, basah di antara atap rumah dan jendelaku yang terbuka, basah di tirainya, lalu basah ke seluruh jiwaku. Aku kuyup saat hujan membasahi tanah, kemudian aku kedinginan saat angin berembus di sela ranting pohon. Aku sendirian, sepi seperti daun yang diterbangkan angin dan terpisah jarak dari yang lainnya. Sunyi. Aku hidup di duniaku sendiri yang mana hanya ada Hara dan ungkapan jatuh cintanya yang penuh, meluap di kepalaku.

Berdetik aku menjelajahi pikiranku, pintu kamar diketuk oleh Ibu. Dia datang membawa sesuatu di tangannya, semacam bingkisan kecil dengan tanda paket dikirim oleh Hara Runashankara. Ibu beranjak setelah menyerahkan bingkisan berbentuk kotak itu, lalu aku membukanya dengan tergesa.

Sebuah kotak musik dengan seorang balerina bergaya tarian balet yang wajahnya anggun tersenyum keluar dari bingkisan itu. Ada gulungan kertasnya juga, satu berisi kata-kata panjang, yang satunya berisi coretan aneh yang hampir membuatku tergelak.


Aku pikir kamu akan suka alunan musik lembut di kotak musik itu, katanya bisa menenangkan meski sekejap. Dan balerinanya cantik sepertimu, Billa. Kalau kamu suka dan ingin melihat balerina itu menari, temui aku untuk kunci tuasnya. Kalau enggak, kamu boleh buang.

Oh iya, jangan lupa tersenyum. Kamu tetap cantik tanpa tersenyum kok, tapi kamu akan merasa lebih baik kalau berusaha tersenyum.


Tertanda

Hara


Kemudian aku secara misterius menjadi tersenyum, meski hanya segaris. Di gulungan kertas yang lain lagi, aku tidak bisa menahan tawa. Untuk pertama kalinya aku tertawa oleh sesuatu yang memang nyata, bukan tertawa atas luka dan traumaku. Aku sungguh tertawa seperti manusia normal saat melihat sesuatu yang lucu. Pasalnya, di gulungan kertas kedua terdapat gambar bulatan membentuk wajah dengan dua mata yang preposisinya tidak pas, senyum di mulutnya tidak seimbang antara panjang kanan dan kirinya, hidungnya berbentuk angka tiga horizontal, telinganya berbentuk angka tiga vertikal, dan rambutnya panjang dengan arsir yang tidak rata. Bisa kau bayangkan sendiri bagaimana buruknya gambar itu. Anak lima tahun bahkan lebih baik jika menggambar.

Satu lagi hadiah untukmu supaya kamu ingat untuk tersenyum. Itu gambar wajahmu kalau tersenyum, tampak manis dan cantik. Jadi, kamu harus selalu tersenyum, ya Billa. Aku terus memikirkan kamu, jadi aku menggambar itu semalaman dan itu hasil terbaik yang bisa aku buat. Nggak buruk untuk anak teknik industri, kan? Aku nggak bisa menggambar wajah, aku biasanya menggambar bangunan.

Lihat selengkapnya