Malam yang tenang dan damai saat Hara duduk di sebelah papanya. Pria dengan wajah berkerut itu masih bernapas menggunakan selang oksigen, sesekali dia lepas saat ingin berbicara, makan atau, sekedar bosan. Pak Han tersenyum pada sosok yang duduk di sebelah Hara, perempuan dengan mata sayu, dan rambut panjang tergerai.
Hara mengatur duduknya agar lebih dekat dengan Pak Han, begitu juga agar tetap menjaga jarak dekatnya dengan Billa. Hara mengulum senyum, memandangi papanya, kemudian beralih ke arah Billa.
"Kamu mau memaafkan Pak Han, kan, Billa?"
"Iya."
Hara menghela napas saat menghadapi mata sayu Billa. Tidak tahu apakah caranya membawa Billa bertemu dengan papanya adalah hal yang baik, mengingat Billa sangat sensitif dengan hal-hal yang mengecewakan harapannya. Hara tahu bahwa Billa menerima pertemanan dengannya karena memandang nasib mereka yang sama, yaitu sama-sama dikhianati. Namun, kenyataan itu berbalik dan Hara tahu dengan pasti bahwa Billa mulai berbeda sikap padanya. Hara mengerti sekarang Billa juga kecewa dengan pertemanan mereka, tapi laki-laki dengan paras rupawan itu tak mau menyerah. Hara ingin memperjuangkan perasaan jatuh cintanya, bukan sekedar jatuh kemudian meredam, tapi jatuh cinta yang kemudian mengekal menjadi mencintai setengah mati.
"Billa," lirih Pak Han yang suaranya rendah dan serak. "Kamu marah pada saya, kan? Saya terima itu, tidak apa jika kamu marah, itu wajar."
"Iya."
"Kamu boleh marah, karena itu artinya kamu peduli dengan Hara. Saya bersamamu sudah lebih dari dua tahun ini, dan saya cukup mengerti bagaimana kamu, Billa. Saya belum pernah melihat Hara sebahagia saat bersamamu, dan saya harap kamu bisa menyembuhkan Hara yang bahagianya itu luntur saat dia sendirian."
Pak Han melanjutkan dengan suara yang semakin merendah. Sementara, Billa mendengarkan dengan tangannya meremas dress selutut yang dia kenakan, dan matanya beralih cepat pada Hara seolah mengetahui bahwa selebar senyum Hara padanya, selebar pula kesepiannya.
"Billa," kata Pak Han lagi. "Hara akan menjagamu sekarang."
Billa diam, dan secara aneh Hara merasakan kengerian menusuk ke relungnya saat mendapati wajah keriput Pak Han menjadi pucat saat tersenyum. Kemudian, secara darurat, alat medis yang menempel pada Pak Han berbunyi nyaring, memekakan telinga. Bunyi itu bertalu di telinga Hara dengan rasa bingung yang membuncah, begitu pula saat dia melihat wajah Billa yang lebih dari sekedar ketakutan, gelisah, dan cemas atas traumanya. Hara dihadapkan dengan pilihan harus membawa Billa pergi dari sana, atau menemani papanya.
Sejurus kemudian, Lea datang bersama perawat dan dokter. Hara keluar membawa Billa, duduk di lorong rumah sakit dalam sunyi, sementara Lea dan Mama berjaga di depan ruang Pak Han untuk menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Hara bisa melihat bagaimana wajah Billa menjadi lebih pucat dari pada yang pernah dia lihat sebelumnya. "Kamu mau pulang, Bil?"
"Tapi, kamu akan sendirian di sini."
"Nggak apa-apa," kata Hara dengan suara tersendat. "Aku antar kamu pulang sekarang, aku nggak mau traumamu soal rumah sakit, atau keadaan seperti ini membuat kamu ketakutan lagi. Biar aku pamit sama Mama dulu."
"Papamu lebih penting," sela Billa dengan suara lirih yang terdengar hampa di setiap suku katanya, sambil dia memegangi tangan Hara dengan canggung. "Panggil Amar saja, aku akan pulang dengannya"