Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #21

Aku: Sudah Terlalu Penuh Bekas Luka

Aku sudah lama tidak merasa sesunyi ini. Saat Hara melepas tangannya, aku seperti akan ditinggalkan selamanya. Laki-laki itu pergi menemui papanya yang sekarat, dan aku berdiam sendiri di lorong rumah sakit dengan perasaan yang juga tak kalah sekarat. Aku tahu aku tidak sepenting itu, dan betapa mengerikannya memiliki harapan. Dia tidak bersalah, harapanku saja yang sudah kalah.

Aku sendirian, terdiam duduk di kursi tunggu sambil mengira bahwa mungkin saja para pria itu akan datang. Aku sibuk mengamati kanan dan kiri, harapanku menjadi kecemasan yang tumpang tindih dengan ketakutan. Tidak tahu bagaimana rumah sakit bisa terasa semengerikan ini. Aku tidak pernah tahu bahwa traumaku berada di mana-mana, bukan hanya di rumah lamaku saja. Trauma itu ada di dalam kepalaku, di dalam diriku. Dia menjelma sakit jiwa.

Amar tidak kunjung datang, padahal Hara bilang dia akan segera menjemputku pulang. Sungguh aku ingin pulang, pergi dari kesepian yang sekarang seolah berbisik riuh di kepalaku. Aku tidak bisa menekan rasa takutku hilang dari pikiranku. Pak Han selalu bilang agar mengganti perasaan-perasaan takut, cemas, khawatir, dan segala ketidaknormalanku menjadi pikiran yang positif. Agar semua itu tidak membuahkan ilusi dan delusi yang membuatku seolah kembali ke masa itu, dua tahun lalu.

Sialnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa jika aku sendirian. Aku akan melayang, dan dibawa paksa di malam yang mengharuskanku meminum obat antipsikotik sampai detik ini.

Lorong rumah sakit yang sepi—karena tak ada petugas medis atau siapa pun melintas—membuat tubuhku gemetar secara emosional. Pasalnya, bukan hanya kesendirian, tetapi jiga nuansa gelap yang entah berasal dari mataku atau memang lampunya yang meredup. Semuanya menjadi tampak sama dengan suasana dua tahun lalu.

Malam itu, satu bulan setelah Ayah dikuburkan, aku masih menangis tersedu-sedu di kamarku yang gelap sambil berusaha mengeluarkan darah dari nadi di tanganku. Hujan turun seolah membersamai air mataku, lalu Pak Han datang untuk pertama kalinya. Dia datang sebab Ibu mengatakan  bahwa aku sudah tidak bisa ditangani oleh dirinya sendiri. Saat itu aku tidak gila, tapi aku terlalu terpukul oleh kepergian Ayah yang menggantung diri di depan mataku. Aku menyalahkan diriku sendiri, lalu menyalahkan Tuhan yang merenggut Ayah dengan cara yang bajingan.

Pak Han bilang aku mengalami depresi akibat kehilangan Ayah, disebut prolonged grief disorder di dunia kejiwaan. Aku tidak mengerti, yang kurasakan hanya sakit saat wajah Ayah yang tersiksa oleh tali yang memaksa napasnya berhenti. Tatapan Ayah saat itu masih terekam jelas di ruang tersembunyi di kepalaku. Ayahku yang malang mati mengenaskan karena aku tidak bisa menolongnya dari rasa kecewa terhadap Ibu.

Fakta itu kuketahui pada sebuah malam berdarah, beberapa hari setelah itu. Aku semakin mati rasa, gila, dan tidak terkendali setelah kejadian itu. Sakitnya lebih dari rasa bersalahku pada kematian Ayah. Kejadian yang membawaku tak pernah bisa kembali pada diriku yang dulu.

Suasana rumah sakit membuatku terbangun dari bayangan masa lalu itu. Hanya sejenak saat seorang pria dengan pakaian petugas medis menanyakan alasanku duduk di lantai sambil memegangi kepalaku. Bahkan aku tidak sadar telah merubah posisiku, rasanya seperti aku sedang mempraktikan kejadian itu. Sial! Aku ketakutan hanya karena tangan petugas itu menyentuh bahuku, rasanya benar-benar seperti aku berada di duniaku malam itu.

"Aku sedang menunggu teman," kataku singkat yang membuat pria dengan seragam putih itu berlalu. Aku bahkan berpikir mungkin dia adalah salah satu dari para pria itu, yang akan merenggutku lagi. Untunglah, dia pergi dengan suara sepatu berderak di lantai.

Kepalaku berdenyut setelah sunyi kembali menggerogoti. Suasananya berubah dari pertemuanku dengan Pak Han, menjadi malam yang tidak pernah bisa kulupakan. Saat itu, aku baru saja pulih dari depresi setelah kehilangan Ayah, melalui bantuan Pak Han. Katanya, aku adalah pasien paling hebat yang pernah dia tangani. Tiga bulan aku melalui hari-hari penuh dengan wajah Pak Han. Lalu untuk pertama kalinya setelah Ayah mati, aku bisa tersenyum ketika melihat anjing peliharaan Ayah Amar menggigit tuannya. Senyum yang sangat tidak beralasan, selain karena aku suka melihat orang lain terluka—pikiran yang kata Pak Han setelah dua tahun bersamanya, harus segera kusingkirkan.

Lihat selengkapnya