Ceritanya tidak pernah berakhir. Tidak akan pernah bahkan. Seorang perempuan tengah tidur meringkuk di ruang inap di bagian kejiwaan di rumah sakit umum kota. Napasnya berdengkur kasar, dan keringat membasahi pelipisnya.
Sementara, seorang laki-laki muda dengan seragam khas siswa sekolah menengah duduk di sampingnya. Dia tampak mengantuk, dengan sesekali menyangga pipinya menggunakan tangannya, lalu memejam, dan dia akan tersentak saat kesadarannya hilang, kemudian sadar lagi. Begitu sampai seorang dokter membuatnya berdiri, dengan keterkejutan setengah mati.
"Sakti, pulang sana!" Dokter perempuan itu menggelengkan kepala. "Lalu pergi ke sekolah!"
"Tapi, Ma—" Belum sempat Sakti berkata lagi, pintu ruangan itu terbuka dengan sangat tergesa oleh seorang laki-laki, dan seorang perempuan muda yang mengekor di belakangnya.
"Di mana Billa Arawinda?" tanya laki-laki itu, lalu dokter menunjuk ke arah seorang perempuan yang tertidur sembari memegangi kedua lututnya.
Sementara laki-laki itu duduk di samping Billa, Sakti tampak tercengang melihat perempuan muda yang berdiri di ambang pintu. "Lea?"
"Sakti?" Lea tersenyum lalu keluar ruangan bersama Sakti, meninggalkan laki-laki yang tak lain adalah Hara itu duduk bersimpuh di samping Billa.
"Kamu kerabatnya?" tanya dokter yang kebetulan sedang berdiri di samping Hara. Kamilia Cipta adalah nama yang tersemat di jas dokternya dengan spesialis kejiwaan. "Saya mau tahu apa kamu mengerti bagaimana keadaan dia? Kenapa sampai dia ditinggalkan sendirian seperti semalam?"
Hara mengernyit tidak mengerti, tapi dia langsung memahami sesuatu yang lain sebagai putra dari dokter spesialis jiwa—meski Hara baru mengakuinya. Laki-laki itu lantas mengacak rambutnya dengan perasaan frustasi yang secara terang-terangan terlihat dari caranya menatap dokter Kamilia.
Baru semalam Hara merasakan dadanya diobrak-abrik secara sporadis. Ketika papanya harus menjalani operasi paru-paru secara mendadak, dan pilihan sulit saat dia harus meninggalkan Billa sendirian di lorong rumah sakit. Hara kira dia sudah berbuat banyak, tapi dia segera menyadari bahwa dia tidak melakukan hal apa pun—yang benar.
Pak Han masih kritis setelah operasinya semalam. Hara kira dia bisa bernapas lega pagi ini, mungkin sejenak merehatkan pikiran penatnya. Namun, dia mendapati banyak pangilan masuk dari ponsel papanya, berasal dari laki-laki paling Hara benci—Amar. Hara yang kesal sekaligus ingin tahu segera menelepon balik, lalu dia dilanda panik ketika mendengar bahwa Amar tidak datang menjemput Billa semalam.
Hara tentu langsung membiarkan ponselnya jatuh, entah pecah atau hanya rusak, Hara tak peduli. Laki-laki itu berlari menyusuri lorong rumah sakit, pergi ke taman, memeriksa toilet lalu ke kamar inap pasien lain, kemudian ke gudang, kembali lagi ke bagian keamanan untuk bertanya apakah mereka melihat perempuan berambut sebahu yang berjalan sendirian di lorong. Kemudian Hara memohon izin melihat cctv, dan Lea yang paling mudah menemukan Billa. Sebab, gadis muda itu tidak sepanik kakaknya, justru cenderung tidak tahu.