Malam itu, aku tidak tahu apa yang menguasai kegilaanku. Aku hanya ingin berjalan menuju tangga, naik ke lantai paling atas, lalu ke atap rumah sakit, dan melompat dengan tenang. Tidak perlu banyak perhatian. Mati dalam sunyi. Paling tidak, besoknya orang-orang hanya perlu sedikit terkejut karena darahku membasahi jalanan di depan rumah sakit. Lalu, orang-orang akan bergumam perempuan gila itu akhirnya mati bunuh diri. Dengan aksen suara khas dari rasa yang hanya ingin tahu, tapi tidak peduli.
Aku akan sangat lega—jika aku mati. Sayangnya, baru akan sampai di lantai atas, setelah bersusah payah menaiki tangga, tanganku kembali di rengkuh paksa. Bukan Hara, cuma anak-anak dengan seragam sekolah. Larut malam berada di rumah sakit? Dia pasti lebih gila dariku.
Dia menarik tanganku, setelah pertanyaannya tidak kugagasi meski hanya anggukan atau senyuman. Begitu melihatku, dia pasti langsung tahu bahwa aku ini adalah perempuan dengan sakit jiwa. Sebab, beberapa saat setelah dia bertanya—pertanyaan berulang-ulang tentang namaku atau alasanku naik ke atas—dia membawa banyak bala bantuan.
Mereka seketika memegangi tanganku. Aku tidak terima jika tujuanku mati digagalkan dengan cara gerombolan pengecut seperti ini, jelas aku tidak bisa melawan. Kuku panjangku sudah melukai beberapa wajah, kakiku hebat dalam menendang-nendang, dan aku berteriak seolah aku sedang memaki Tuhan. Yang secara pasti adalah pusat dari segala kegilaanku.
Dua tahun lalu, orang-orang berseragam putih juga melakukan hal yang sama padaku. Mereka memegangku kuat-kuat, tapi jika aku tetap tidak bisa tenang, jarum menusuk lenganku sampai aku hanya bisa duduk dengan ekspresi bodoh atau bahkan tidak sadarkan diri. Aku sudah mengalami itu puluhan kali, dan malam itu aku diperlakukan dengan cara yang sama. Upayaku untuk sembuh hanya isapan jempol belaka. Sia-sia.
Sampai, matahari dari jendela kecil membuat mataku silau. Seorang laki-laki dengan segera menutupinya, tapi usahanya gagal karena aku sudah terlanjur terganggu sejak mereka yang entah siapa berbicara terlalu banyak.
Wajahnya tersenyum saat aku ingin bangun. Dia menolongku duduk, lalu memberiku air hangat. Gelas kupegang dengan gemetar, sebab rasanya aku ingin mati saja dari pada harus terlihat dalam keadaan terburuk seperti ini di hadapan Hara. Aku tidak mau jika dia tahu bahwa aku perempuan korban pemerkosaan. Dia pasti tidak akan menjadi temanku lagi. Aku tidak membiarkan orang lain tahu, selain Ibu dan Amar.
"Pergi sana!" Aku mengusir, berharap laki-laki itu menuruti. Namun, dia justru membantuku meneguk air hangat yang membuatku sadar dari bayang-bayang kejadian mengerikan itu. Kesadaran membuatku sepenuhnya sadar atas suguhan senyum dari Hara yang merekah, penuh kelegaan.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Hara yang berusaha memeriksa tubuhku. "Enggak ada yang terluka, kan?"
Hara baru meletakan gelas, lalu tangannya mengarah padaku. Wajahnya tampak khawatir, sebab pelipisku sedikit memar, entah, mungkin karena aku terbentur sesuatu, atau aku terlalu banyak memiringkan tubuh ke sisi yang salah.
"Jangan sentuh aku!" Aku berteriak padanya sembari membuang tangan Hara. "Jangan dekati aku lagi!"
"Tapi—"
"Pokoknya jangan datang padaku lagi!" Aku menarik diri dari rengkuhan Hara, memojokkan diri ke arah lain. "Aku sudah bilang, aku tidak suka kamu! Bagiku cuma ada Amar!"
Lalu, perkataanku membuat Hara terdiam. Tangannya masih menggantung di udara, matanya lekat seolah aku tidak pernah pergi dari tatapnya. Laki-laki itu menghela napas, lalu tersenyum pias.