Tidak ada yang Hara lakukan setelah dia pulang ke rumah. Dia hanya duduk, padahal seharusnya dia membersihkan diri lalu kembali ke rumah sakit untuk menjaga papanya. Laki-laki itu menghela napas kasar, lagi dan lagi sampai dia sendiri bosan bernapas, tapi harus tetap melakukannya untuk tetap hidup. Layaknya ketika dia harus tetap tersenyum untuk membuat Billa tersenyum, meski tidak jarang gagal.
Hara terlampau kecewa dengan harapannya sendiri bahwa dia mungkin akan dipeluk Billa saat perempuan itu ketakutan, atau ketika traumanya kambuh. Hara sejatinya tahu betul alasan di balik trauma dan gangguan mental yang Billa alami. Dia tahu setelah papanya mengatakan kebenaran yang samar-samar, dan semua cerita masa lalunya diungkap dengan begitu menyakiti perasaan Hara.
"Billa diperkosa," lirih Pak Han saat itu—setelah sadar dari masa kritis—masih dengan jelas membuat hati Hara berdarah-darah. "Dan Amar berkaitan dengan kejadian itu, tapi jangan salahkan dia. Amar hanya korban dari kejadian mengerikan itu."
Hara menatap papanya yang terbaring di rumah sakit. Hari itu juga Hara telah memutuskan untuk merebut Billa dari Amar apa pun keadaannya. Dia menyadari bahwa dia jatuh cinta pada Billa setelah berusaha membantu perempuan itu, dan sampai Hara mengetahui fakta keadaan Billa, perasaannya sama sekali tidak berubah. Hara akan menggantikan Amar, itu adalah tujuan awalnya.
Namun, rasanya bak ditikam oleh pisau sendiri. Nyatanya Billa hanya berusaha memiliki Amar, dan bukan memilih memeluk Hara. Rasa kecewa oleh harapan yang dipupuk sedikit demi sedikit itu lebih menyiksa. Hara terluka. Dia merasa telah kehilangan Billa, dan mungkin dikalahkan dalam upayanya untuk membuat Billa baik-baik saja. Hara membenci Amar, yang baginya hanya akan menyakiti Billa suatu saat nanti, tapi justru dia yang membawa Billa dalam keadaan seperti semalam.
Rasa bersalah yang membuat Hara mundur. Dia memaksa dirinya sendiri untuk berjalan menjauh tepat ketika Amar datang dan memeluk Billa di hadapannya. Hara sudah kalah, dan dia dibisiki sisi lain dari dirinya untuk segera menyerah. Laki-laki itu bangkit dari duduknya, tentu menghampiri kamar yang selama ini menjadi tempatnya melampiaskan rindu.
Mama masih tersenyum untuk Hara meski bingkai fotonya sudah pecah. Kacanya pernah melukai tangan Hara, rasanya sakit sampai Hara menangis. Air matanya bahkan abadi meski tidak terlihat mengalir. Hara mengusap wajah Mama yang tersenyum di balik bingkai foto yang siap membuat tangan Hara berdarah lagi. Namun, Hara tetap membelai senyum Mama.
"Ma," lirih Hara. "Hara mau bertemu Mama."
Hara tidak tahu bagaimana perasaan ingin mati itu tiba-tiba merayapinya. Seolah dunia Hara berputar lambat dengan sakit yang menguar cepat. Papa berada di rumah sakit dengan keadaan kritis, mungkin siap meninggalkan Hara untuk menyusul Mama. Billa tidak bisa Hara rengkuh, perempuan itu semakin kukuh bahwa Amar adalah peneduh. Sehingga, rasanya Hara putus asa untuk mencoba membuat dirinya baik-baik saja.
"Semuanya baik-baik aja." Hara bergumam lirih, tepat setelah dia menyadari bahwa jarinya tergores, sedikit berdarah oleh kaca di bingkai foto Mama. "Aku baik-baik aja, tapi aku terluka."
Hara menatap Mama yang masih tersenyum, lalu dia membuat wajahnya tersenyum pula. "Mama bilang Hara harus selalu tersenyum, kan?" tanya Hara seolah Mama menjawab isi pikirannya.
Hara berdiri dengan memandang senyum Mama cukup lama, bahkan tidak sadar bahwa seseorang menepuk pundaknya. Zain berdiri di belakang Hara, seragam khas mahasiswa teknik melekat di tubuhnya, dengan rambut yang berantakan, tapi wajahnya teduh.
"Pak bos, kamu orang yang kuat!" Zain menghela napas. "Aku ada di sini kalo kamu merasa aku nggak ada di mana-mana."
Hara menatap teman akrabnya itu, lalu air mata menuruni pipi Hara dengan tak tahu malu. Hara menyekanya, lalu memukul Zain karena candaan laki-laki itu merusak momen mendayu-dayunya menyelami kesakitan bersama senyum abadi Mama.
"Tanganmu berdarah, tuh!" Zain segera menarik tangan Hara beserta orangnya.
Zain menarik Hara dengan paksa, keluar dari kamar Mama yang penuh limpahan kesedihan dan kerinduan Hara. Keduanya berada di ruang tamu sekarang, dengan Zain yang mendapat kotak p3k setelah mengobrak-abrik rumah Hara.
"Thanks."
Zain mengangguk ringan, lalu menatap Hara. "Kalo aku tanya apa kamu baik-baik aja, kita udah tahu jawabannya," kata Zain dengan hati-hati. "Aku nggak akan minta buat cerita sebelum kamu sendiri yang mau berbagi, Ra! Udah makan, kan?"
Hara menggeleng.