Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #25

Aku: Tidak Ada Kebenaran yang Bisa Disembunyikan

Ada malaikat yang menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih.

Seorang seniman jalanan tengah membacakan puisi itu lantang di taman kota yang jauh dari rumah, beberapa orang duduk mengelilinginya. Layaknya sebait puisi yang Ayah selalu gumamkan ketika aku masih kecil. Tepat ketika dia selesai menonton film Ada Apa Dengan Cinta. Katanya, dia selalu jatuh cinta lagi dan lagi pada bait-bait puisi Rangga. Aku merasakan kengerian yang mendalam dari larik itu sampai menusuk kanopi di ulu hatiku.

Ada apa? Kenapa begini sepinya padahal Amar sedang duduk di sampingku. Aku seperti kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki. Apa itu? Hara? Si laki-laki yang tiba-tiba datang ke dalam hidupku yang nyaris mati ini. Senyum merekah di bawah pohon bungur yang tengah dipenuhi warna merah muda itu tidak bisa kulenyapkan barang sejenak dari pikiranku. Sial!

"Ada apa, Billa?" Lalu Amar memaksa isi kepalaku kutelan bulat-bulat tanpa kuceritakan padanya bahwa Hara mengunjungiku setiap malam melalui jendela pikiran. "Kamu merasa nggak enak badan, mau kuantar pulang saja?"

"Aku mau melukis," kataku yang selalu diangguki Amar tanpa menolak atau menggerutu tentang apa pun yang kuinginkan.

"Harusnya tadi kita bawa saja kanvas dan cat barumu," kata Amar yang menatapku dengan dua bola mata coklat tua yang teduh. "Shana membelikan itu untukmu dari Prancis, kebetulan papanya adalah kolektor lukisan."

Shana? Ah iya, perempuan cantik dengan rambut hitam panjang yang selalu diikat kebelakang itu adalah perempuan yang baru-baru ini sering Amar ceritakan. Entah sadar atau tidak, telingaku hampir dungu mendengar nama Shana disebutkan. Beberapa hari belakangan ini, perempuan itu juga sering mengunjungiku untuk alasan paling klise. Melihat lukisanku, mengajakku ke pameran, dan yang terakhir membelikanku cat minyak dari Prancis. Aku masih ingat betul merk kelas dunia itu.

"Aku mau pulang," kataku membuat Amar mengangguk.

Dia seperti malaikat yang menyulam jaring milik laba-laba. Padahal dia tahu bahwa laba-laba bisa menyulam jaringnya sendiri. Malaikat selalu baik, begitu pula Amar yang tengah menatapku. Lapisan bola mata coklatnya adalah candu untukku terus menatapnya, dan bola mata itu persis milik Ayah. Sebab, Ayah telah menjelma sebagai Amar. Meski, kematian Ayah yang mengenaskan itu selalu menyisakan ruang tak bertuan di labirin terdalam perasaanku.

Aku dan Amar kemudian memilih meninggalkan taman kota yang tidak ramai itu. Sekumpulan seniman jalanan yang duduk memutar masih bergantian membaca puisi, terdengar indah nan mendayu, tapi aku ingin pulang. Puisi membuatku semakin didera kengerian yang secara aneh selalu membayangiku setelah kematian Ayah. Meski seorang pebisnis handal, Ayah sangat mencintai puisi.

Jalanan kulalui tanpa bicara, Amar juga hanya diam. Lalu, pagar rumahku tampak di datangi oleh seorang laki-laki yang tak asing. Kamu bisa menebak siapa! Dia menatapku sangat dalam sampai-sampai aku hampir ditarik masuk ke sorot matanya yang berkilat.

"Untuk apa datang ke sini?" tanyaku sarkas sebab tiba-tiba aku dilanda panik luar biasa setelah melihat Hara. Aku segera mengingatkan diriku untuk tidak senang melihat laki-laki dengan senyum megah yang sekarang menatapku pias itu. Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak layak untuk menjadi teman, atau perasaan yang Hara katakan sebagai jatuh cinta.

Aku melihat Amar mendengus, sedangkan Hara hendak menghampiriku. Aku segera mengangkat bicara, "aku tidak mau melihatmu lagi, kita bukan teman. Kamu yang melepaskan tanganku malam itu, Hara." Lalu timbul kekecewaan saat aku melontarkan itu. "Kamu membuatku sendirian. Aku ketakutan. Aku membencimu, kamu saja yang pergi dariku. Cukup Amar, aku tidak butuh orang lain lagi."

Tepat ketika nama malaikatku itu kusebut, mata Hara semakin berkilat-kilat. Aku tahu pasti Hara sama kecewanya denganku. Dia yang pertama melepas tanganku setelah ungkapan jatuh cintanya yang hampir kupercaya. Lalu, aku melepaskan kepercayaanku padanya dengan alasan kelayakan. Ya, perempuan sepertiku.

Lihat selengkapnya