Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #26

Dia: Yang Hancur Berkeping-Keping, Tak Mungkin Dirangkai Kembali

Hara terbangun dengan tubuh kaku. Seolah dia baru saja bangkit dari mimpi buruk yang menguar seiring sadar. Matanya layu, tapi pikirannya dengan segera menyentak warasnya. Bahwa dia telah membuat bekas luka seseorang mulai berdarah lagi. Seketika, Hara bangkit dengan tergesa.

"Tenang, Ra!" Tapi Zain lebih cepat menahannya.

Hara pikir jalanan adalah tempatnya berbaring dengan mimpi buruk yang menderu. Kiranya pagar rumah Billa adalah pemandangan yang akan dia dapati setelah mampu berdiri. Salah. Hara menyadari dia berada di rumah sakit usai mengedar pandangnya. Tidak ada Billa, atau Amar. Hara hanya mendapati dirinya yang ditunggui oleh Zain.

"Billa—"

"Billa baik-baik aja!" Zain berseru.

Hara bukan bocah yang mudah percaya. Baik-baik saja hanyalah sebuah metafora yang sudah tidak lagi berguna. Mungkin hanya sakadar hiburan, Hara tahu bagaimana dia selama ini mengomedikan dirinya sendiri dengan ungkapan baik-baik saja. Hara tahu kesalahan fatal yang sudah dia buat, dan kemungkinan yang akan dia dapat.

"Minggir, aku harus ketemu Billa!"

Tidak ada yang berubah dari upaya Hara. Dia tak pernah benar-benar mampu untuk menjadi baik-baik saja seperti yang dia kira sebelumnya. Dia yang sekarang menyabet luka, mendarahkan kenyataan, dan menghadapi kematian dari jiwanya sendiri. Hara sudah sejak lama kalah.

"Kak Hara," lirih suara yang lebih lembut. "Papa mau ketemu Kak Hara."

Pak Han duduk di kursi roda usai masa kritisnya dilewati dengan tangguh. Dia didorong oleh Lea mendekat ke arah Hara yang sudah terduduk dengan memaksa.

"Papa, baik-baik aja?"

Pak Han tersenyum, sudut matanya tampak teduh. "Iya, Papa sudah lebih baik."

"Maaf, Pa." Hara nyaris menangis setelah menyadari betapa dia sudah terlalu jauh dari dirinya sendiri, dia melupakan papanya yang tengah kritis, dan membuat Billa mengetahui kenyataan dua tahun lalu.

"Kenapa kamu minta maaf, Hara? Jangan menyalahkan dirimu sendiri, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, Nak." Pak Han tersenyum teduh dan begitu menenangkan. "Papa sudah mendengar tentang keadaan Billa."

Hara seketika bergerak dari duduknya begitu mendengar Billa, sehingga menimbulkan sakit di beberapa luka lebamnya. "Bagaimana keadaannya, Pa?" tanya Hara yang tidak sadar menikam lukanya sendiri.

Lihat selengkapnya