Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #27

Aku: Dua Hari Untuk Mati

Satu detik terasa biasa saja, jarum jam hanya melewatkan satu kedipan mata. Dua detik pun sama, tiga detik, empat detik, tidak ada yang berbeda. Satu menit masih sama. Satu jam tetap sama. Satu hari menjadi begitu hampa. Waktu memang tidak pernah benar-benar membedakan apa pun, termasuk diriku yang mulai sekarat tanpa jeda.

Ibu sedang duduk di ruangan yang sama denganku, tapi dia membiarkan tangan dan kakiku terikat. Ini seperti dua tahun lalu, persis. Katanya waktu menyembuhkan. Kata siapa? Waktu justru menyengsarakan. Jika satu hari membuatku begitu hampa, maka dua hari membuatku semakin gila. Butuh dua hari rupanya untuk membunuhku tanpa meneteskan darah atau menggoreskan luka kasat mata. Aku sudah mati sejak berdetik lalu jika saja tangan dan kakiku tidak terikat paksa. Orang-orang berpakaian putih itu!

Perlu dua hari untuk mati, dan dia benar-benar membunuhku. Wajah pucat Ayah yang kehilangan banyak oksigen saat menggantung dirinya sendiri menjadi bagian penting dari keinginanku untuk mati. Ayah bisa melakukannya dengan mudah, tapi kenapa Tuhan perlu menyiksaku lebih dulu? Aku tahu bahwa hidup tidak pernah benar-benar adil, bahkan untuk mati pun Tuhan mencoba menyengsarakan.

Setelah Ayah, cerita mengerikan dua tahun lalu adalah dorongan untuk mati yang lebih masuk akal. Amar menikam kepercayaanku. Dia penipu ulung. Seperti kehilangan Ayah dua tahun lalu, dua hari lalu akhirnya aku juga kehilangan Amar. Satu-satunya malaikat setelah Ayah. Malaikatku. Yang menyulam jaringku, yang menciptakan tenang saat memelukku, yang menjadi penghangat gigilku, yang menjadi ... sekarang merusak.

Bapak Amar, laki-laki bermata cemerlang itu tak mampu kubayangkan memiliki kebangsatan yang tak terkira. Aku ingat siapa pria-pira yang menyentuhku, meski salah satunya bukan Bapak Amar, tapi laki-laki brengsek itu ada di sana. Malam itu, aku harusnya menyadari suaranya atau gerak-geriknya. Kenapa aku mudah sekali melupakan hal-hal penting itu? Bahwa dia punya masalah dengan Ibu, tapi menjadikan aku sebagai korban. Dua tahun lalu, malam berdarah itu. Aku ingin mati!

Akan kuceritakan bagaimana Ibu menangis tersedu-sedu dua hari lalu, sebelum aku mencoba mencekik lehernya karena menghalangiku mencekik leherku sendiri. Dua hari lalu, setelah Amar melukai kepercayaanku, dan Hara membubuhkan luka dengan kejujurannya, aku benar-benar melampiaskan rasa putus asa itu sampai pelukan Amar terasa menyiksa.

"Billa, Ibu minta maaf—"

Aku memegangi leher perempuan yang melahirkanku dengan terpaksa itu, lalu melepaskannya untuk mendengar kenyataan. "Katakan sesuatu yang bisa menyembuhkan aku, Ibu. Katakan kebenaran yang bisa membuatku baik-baik saja, bukan yang membuatku semakin membencimu!" Aku berteriak.

"Billa, memang benar jika Bapak Amar ada di sana dua tahun lalu, kamu pasti masih ingat obrolan kami. Bahwa Ibu dan dia memiliki hubungan yang membuatmu merasakan sakit." Ibu memegangi tanganku, dua hari lalu aku masih bisa luluh begitu wanita tua itu meneteskan air mata. "Ini semua salah Ibu, maaf darimu tidak pantas untuk Ibu, jadi tolong Billa, jangan mati. Tetaplah hidup, Nak."

"Tetap hidup untuk menjadi seperti ini, Bu? Menjadi perempuan gila yang menyusahkan semua orang? Ibu pikir aku tahan seperti ini?" Aku menyentaknya, dan dia hanya menitikan air mata. "Katakan kebenarannya, kumohon!"

"Maafkan Ibu," lirihnya lagi sampai aku muak karena dia menahan inti cerita itu daripada mengatakannya lugas. "Kamu akan terluka, ini salah Ibu."

"Ibu memang pengecut, Ibu tidak tahu aku sudah berdarah-darah begini, untuk apa lagi? Ibu takut jika aku lebih terluka, Bu? Ibu sangat egois, aku tahu sejak awal. Jadi, tolong katakan kenapa Bapak Amar melakukan itu? Kenapa Ayah menggantung dirinya sendiri? Karena Ibu dan Bapak Amar memiliki hubungan di belakang Ayah? Aku benar, kan?"

Lihat selengkapnya