Sudut kamar yang dipenuhi lukisan membuat Amar menegur sadarnya. Sudah dua hari semenjak Billa kembali menjalani perawatan intens di rumah sakit jiwa, Amar seolah kehilangan arah. Laki-laki jangkung itu tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Padahal, dengan bijaknya dia memberikan kalimat-kalimat menohok pada Hara.
Amar tahu semenyakitkan apa Billa saat ini. Lukisan Billa selalu mencerminkan dirinya. Karena Amar, Billa yang hampir menjadi baik-baik saja, kembali harus dianggap gila. Amar menyalahkan dirinya sendiri, dia menampar pipinya beberapa kali, tapi masih kalah sakit dengan batinnya. Amar bahkan tak berani menatap dirinya sendiri di cermin. Pantulan wajahnya adalah pantulan kesakitan yang kelewat berdarah. Sepi bagi Amar, dan terlalu menyedihkan untuk ditangisi. Amar tetap menangis. Dia tersedu-sedu untuk sesaat lalu menatap kanvas di depannya.
Lukisan-lukisan milik Billa membuat Amar menyadari banyak hal. Goresan menyakitkan dari cat ke kanvas membawanya ke masa-masa menyenangkan, menciptakan paradoks perasaan. Seorang anak perempuan yang gemar tersenyum membias di ingatannya.
"Namaku Billa Arawinda," lirih anak perempuan itu sambil tersenyum, satu tangan memegang kuas, dan tangan yang lain menggantung di udara. "Kamu siapa?"
"Amar," jawab anak laki-laki yang Amar lihat sebagai dirinya. "Amar Baga Pradipta."
"Namamu bagus," kata Billa melengkungkan senyumnya. "Mau bermain bersama? Aku bosan melukis sendirian."
"Bapakku baru bekerja di sini hari ini, menjadi tukang kebun di rumahmu. Kita nggak bisa bermain bersama." Amar kecil menenggelamkan wajahnya di antara ragu-ragu dan canggung. Lalu dia berjalan menjauh dari anak perempuan yang masih menggantungkan tangannya di udara.
Hari-hari berikutnya, Billa kecil selalu bermain sendirian. Jika tidak melukis, dia akan membaca buku-buku dongeng sendirian. Kadang-kadang, Amar melihat anak perempuan itu tersenyum cerah ketika mendapati ayahnya pulang bekerja, lebih senang lagi saat ayahnya mengajaknya menghabiskan waktu bersama. Namun, lebih banyak lagi Billa duduk di taman rumahnya sendirian, murung dan tidak tersenyum. Amar segera menyadari betapa kesepiannya anak perempuan itu.
"Lukisanmu bagus," lirih Amar dengan hati-hati ketika dia melihat Billa sedang kesal dengan kuas dan cat lukisnya di suatu sore yang cerah. "Kenapa kamu melukis sendirian?"
"Lalu aku harus melukis dengan siapa? Ibu sibuk, dan Ayah tidak punya waktu. Aku tidak punya teman, dan tidak mau punya teman. Mereka suka mengejekku, katanya aku aneh. Kamu juga kemarin, tidak mau berteman denganku." Billa kecil berkata sambil terisak. "Pergi saja sana!"
"Baiklah, ayo berteman." Amar mengulurkan tangannya, tapi Billa hanya mendongak. "Nanti, aku akan menemani kamu melukis di sini setiap sore."
"Tidak mau." Billa melempar tatapan kesal. "Paling kamu sama saja dengan mereka, kamu ingin tahu seberapa anehnya aku, lalu kamu akan mengejekku. Sama seperti mereka. Semua orang itu sama, kecuali Ayah."
Amar tetap mengulurkan tangannya, lalu tersenyum kecil. "Maafkan aku karena kemarin. Bukannya nggak mau berteman denganmu, aku hanya berpikir aku anak tukang kebunmu. Nggak cocok berteman dengan tuan putri."
"Namamu Amar, kan? Kamu anak Om Tio, kan?" tanya Billa yang hanya diangguki kepala oleh Amar. "Kata Ayah, Om Tio dan Ayah adalah sahabat sejak lama. Katanya boleh berteman denganmu."