Taman rumah sakit jiwa hampir mirip seperti taman kanak-kanak. Banyak sekali yang berlari-lari tidak karuan ributnya. Ada yang duduk-duduk sambil merenungi hidup yang sedemikian kejam telah merenggut jiwanya. Ada yang berjalan tanpa tujuan sehingga harus diawasi oleh perawat. Semuanya tumpah ruah di taman ketika sore yang nyaman seperti sekarang. Menghabiskan waktu untuk menunggu kematian yang mungkin sudah direncanakan matan-matang. Aku tidak tahu, tapi aku adalah salah satu bagian dari mereka. Aku adalah mereka.
Hara mendorong kursi roda yang kunaiki, padahal kakiku baik-baik saja untuk berjalan sendiri. Laki-laki itu membawa coklat berbentuk beruang. Dia menaruhnya di pangkuanku. Aku tidak makan coklat, rasa manisnya hanya pura-pura karena sejatinya mereka berasal dari tumbuhan yang pahit. Hidup memang penuh filosofi, hidupku.
"Kenapa kamu menemuiku?"
"Rindu," jawab Hara yang menghentikan lajunya untuk berjalan ke hadapanku. Laki-laki itu berjongkok agar setara denganku. "Bagaimana kabarmu setelah aku ... setelah aku membuatnya semakin rumit? Maafkan aku, Billa. Aku benar-benar nggak—"
"Aku baik," potongku.
Aku tahu aku selalu menolak ungkapan jatuh cintanya, tapi aku tidak pernah meragukan kerinduan. Entah bagaimana, mungkin karena aku selalu merindukan Ayah, belakangan ini aku semakin memahami bagaimana dahulu Ayah terluka karena perasaan jatuh cintanya bertolak arah dengan Ibu. Aku bahkan bukan putrinya, sehancur itu Ayah sampai dia memilih menggantung dirinya sendiri dua tahun lalu. Karena tidak percaya dengan cinta, setidaknya aku akan menyambut baik niat Hara jika dia benar-benar rindu pada seseorang semacam aku yang rasanya tidak cukup pantas.
Aku sudah mencoba membuatnya menjauh, membuatnya pergi dariku, membuatnya membenciku, tapi dia masih saja datang.
Sebenarnya terbuat dari apa senyum di wajahnya itu? Apa dia malaikat?
"Kamu nggak mau makan coklatnya?" Hara mengambil beruang-beruang yang terbaring bersimpuh di kotaknya. "Ini enak, lho. Katanya bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik."
"Perasaan macam apa yang akan lebih baik setelah makan coklat? Jangan menipuku!"
Aku mengatainya sarkas supaya dia sadar dengan siapa dia membual. Aku jelas adalah orang paling skeptis di muka bumi ini jika aku boleh hiperbol. Semua orang meragukan sekarang, bahkan Amar yang kuanggap malaikat. Tidak ada yang bisa kupercaya, bahkan diriku sendiri. Kamu tahu, ada aku yang mencoba mati, dan ada aku yang berusaha tersenyum. Semuanya adalah aku di dalam diriku. Rumit! Jadi, coba simpulkan sendiri mengapa aku berusaha keras mengusir Hara, tapi tetap berharap dia kembali dengan tersenyum.
"Aku akan makan coklatnya," lirihku lagi. "Itu karena aku kasihan padamu."
"Kamu nggak berubah sama sekali," gumam Hara kembali tersenyum dengan mudahnya seolah dia terlahir hanya lewat senyuman. "Berarti kamu baik-baik saja kalau begitu. Aku khawatir kamu akan membenciku atau kamu mungkin akan melakukan hal-hal yang berbahaya."
"Maksudmu?"