Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #30

Dia: Cara Kita Bertemu Melalui Rasa Sakit Itu

Dua tahun lalu ....

Mobil Toyota AE86 berderit memilukan, lalu kap mobil merah tua itu mengepulkan asap. Hara dengan jengah turun dari mobilnya, lalu menendang-nendang benda tua reot itu dengan kesal. Dia harusnya berangkat ke kampus untuk hari pertama masa orientasi fakultas, tapi lagi-lagi mobilnya perlu dikasihani.

"Ada apa, brou?" kata seorang pemuda yang mengenakan seragam mahasiswa teknik yang sama dengan milik Hara. Dia turun dari motor vespanya, menengok sebentar lalu bertanya, "Mogok mobilmu?"

Anggukan ringan Hara hanya sekilas menyiratkan betapa tidak bersahabatnya dia saat itu. Mobil mogok dan terlambat dalam orientasi mahasiswa baru dengan senior seperti singa di fakultas teknik itu mimpi buruk untuk memulai masa menjadi mahasiswa. Hara menengok orang asing itu, laki-laki dengan tubuh tidak terlalu tinggi, menyandang tas menyamping, dan senyum yang memperlihatkan seluruh gigi tidak rapinya. Zainal Abidin, nama itu yang tertera di seragam mahasiswa baru jurusan teknik industri.

"Mau bareng nggak?" tanyanya pada Hara. "Dari pada telat."

"Aku Hara," kata Hara sembari mengambil barang-barang pentingnya di dalam mobil. Lalu, mendekat ke arah lawan bicaranya. "Panggilanmu? Abidin?"

"Zain! Jangan panggil Abidin." Laki-laki itu berdecak kesal. "Kita satu jurusan, Hara Runashankara? Namamu cakep juga."

Vespa melaju begitu saja membelah jalanan. Hara dan Zain mengikat pertemanan mereka sejak saat itu. Tidak ada yang luput dari Zain mengenai Hara, laki-laki yang meskipun tersenyum, tapi tidak pernah benar-benar tersenyum. Hara yang tertutup, dan Zain yang menggali lebih jauh membuktikan tentang hubungan apa pun bisa dibangun melalui keterikatan yang saling melengkapi.

"Ra, sakit apa, sih?" tanya Zain ketika dia datang ke rumah sakit setelah Hara menghubunginya tiba-tiba, di liburan semester pertama.

"Aku butuh bantuan," kata Hara yang menyodorkan kertas dan pulpen. "Isi itu supaya aku bisa dirawat di sini."

"Kenapa? Buat apa?" Pertanyaan Zain tidak digubris Hara yang memerhatikan satu ruangan yang pintunya selalu terbuka. Ruangan itu berhadapan dengan posisinya berada sekarang, sehingga dia bisa dengan jelas melihat seorang perempuan yang dirawat di sana, dan dokter yang keluar masuk memeriksanya.

"Aku mau lihat Papaku," gumam Hara dengan suara tidak jelas, tapi masih mampu ditangkap oleh indra pendengaran Zain. "Jadi, isi aja sebagai kerabat atau apa pun di formulirnya, terus urus administrasi pakai kartuku."

Penyakit Hara hanyalah darah rendah akibat seringnya dia tidak tidur semalaman hanya untuk bercerita pada mamanya mengenai kesepian yang meradang. Mama yang meninggal beberapa tahun lalu masih menyisakan tempat sunyi bagi Hara menghabiskan rindu-rindu yang membelah perasaannya. Papa yang sudah hilang dari hidupnya, yang dia benci, meski sesekali ingin dia temui tanpa diketahui, adalah alasan Hara ingin dirawat di rumah sakit itu.

Papanya bekerja sebagai pskiater, bukan dokter umum. Tapi, Hara tahu rumah sakit adalah tempat yang luas untuknya bersembunyi ketika merindukan papanya yang dia peluk saat dia masih berusia lima tahun. Bagaimana pun, Hara ingat rasa hangatnya, meski sekarang berakhir dengan kebencian yang menimbulkan rindu dari perasaan yang teredam rumit. Menjadi salah satu pasien di sana memungkinkan Hara melihat papanya tanpa disadari, dan dia tidak harus menekan egonya.

"Gejala tifus." Hara menyentak Zain agar mengisi formulir rawat inap dengan benar.

"Heh, jangan ngawur," gerutu Zain nyaris meremas formulir pasien. "Aku nggak tanggung jawab kalo sakit beneran, ya!"

"Iya."

Zain menuruti Hara dengan gerutuan yang tidak diperhatikan. Pada liburan semester, Zain lalu pamit untuk bekerja paruh waktu, dan meninggalkan Hara sendiri di rumah sakit itu dengan status pasien. Bagaimana status pasien dengan mudah Hara dapatkan padahal kondisinya baik-baik saja? Tentu Hara menggunakan nama papanya, dan membungkam petugas yang merawatnya untuk tidak memberitahu papanya. Sebab, hampir semua orang di rumah sakit itu sebenarnya tahu siapa Hara dan nama besar dokter Handoko sebagai spesialis kejiwaan, serta bagaimana hubungan keduanya.

Lihat selengkapnya