Sejak berumur lima tahun, aku sudah memegang kuas dan palet berisi cat minyak. Anak-anak lain suka sekali menggangguku, mengejek, atau menertawaiku karena aku aneh. Aku tidak suka bermain lari-larian seperti mereka, atau bermain rumah-rumahan dengan boneka-boneka cantik dan alat masak-masakan. Aku tidak suka main tipuan semacam itu, dunia anak-anak milikku berbeda. Mereka menjauhiku hanya karena aku tidak mau bermain apa yang mereka mainkan, kekanak-kanakan.
Dunia yang Ayah suguhkan lebih berwarna, tidak sama dengan anak-anak lainnya. Ketika Ayah belum sibuk, dia akan duduk di dekat kolam ikan, di bawah pohon yang teduh di taman rumah kami, lalu membawaku di atas pangkuannya. Dia suka sekali membaca, sepertinya membaca adalah hidupnya. Meskipun pengusaha sukses, tapi Ayah adalah lulusan dari jurusan sastra inggris Universitas Sebelas Maret. Tak jarang dia membaca untukku—cerita yang sudah kuhafal—Oliver Twist atau Le Petit Prince, kadang juga dia menceritakan ulang Harry Potter atau Narnia. Tapi, yang paling aku suka adalah puisi-puisi Edgar Allan Poe, dan syair-syair Rumi. Cukup berat untuk anak-anak, tapi aku berbeda dengan anak-anak lainnya, dan Ayah tahu itu.
Aku anak perempuan dari keluarga yang cukup mapan. Aku punya rumah dua lantai yang tampak besar dengan taman yang luas dan kolam ikan yang dilengkapi air mancur—yang setiap hari menjadi tempatku menikmati sunyi. Aku juga punya Amar, dan seluruh keluarganya yang bekerja di rumahku. Bapak Amar—Om Tio—adalah sopir pribadi, pengurus taman, dan bertanggung jawab atas kebersihan di rumahku sekaligus sahabat karib Ayah sejak dulu sekali. Menurut cerita Ayah—yang baru kutahu setelah dewasa—Om Tio tidak sempat menyelesaikan kuliahnya karena harus dipenjara beberapa tahun atas suatu tuduhan. Sehingga Om Tio dan keluarganya sulit mencari pekerjaan, dan Ayah memerankan dirinya sebagai sahabat yang baik, jadi Ayah memberikan pekerjaan pada Om Tio dan istrinya, lalu Amar menjadi temanku.
Om Tio juga merawat anjing besar jenis Doberman Pinscher, pemberian Ayah. Anjing penjaga berukuran besar dengan ekspresi yang selalu tampak galak seolah mau mencabik-cabikku. Aku dan Amar jika sedang membuat ulah, akan Ayah takut-takuti dengan si Doberman itu. Tapi anjing itu sangat penurut dan loyal, meski tampangnya garang, dia sesekali menempel padaku untuk kuusap-usap kepalanya. Ayah sangat suka dengan si Doberman itu, katanya anjing penjaga rumah yang hebat.
Setiap hari aku melihat Om Tio dan Ibu berbincang. Mereka berdua terlihat lebih akrab dari pada Om Tio dengan Ayah. Bertahun-tahun kemudian, aku menyadari sorot mata Ayah meredup, tapi dia tetap tersenyum dan membaca bersamaku saat aku sudah mulai memilih bahan bacaanku sendiri. Aku dan Ayah duduk di dekat kolam ikan, tapi waktu semakin payah merenggut Ayah. Hanya akhir pekan, setiap sabtu sore, jika Ayah sempat, kami berdua duduk bersama, kadang juga pergi ke pasar malam jika ada pada petangnya. Kesibukan semakin menyiksa, dan aku akan menjadi penyendiri yang ulung jika saja Amar tak datang.
Hari menjadi kanak-kanak berlalu terlampau cepat, dan aku melaluinya dengan cukup baik bersama Amar. Hingga masa remaja, aku dan Amar selalu berada di sekolah yang sama, Ayah yang memberi titah agar Amar menjagaku. Masa remaja menjadi terasa menyengsarakan. Aku lebih sedikit bertemu Ayah, bahkan mungkin satu kali dalam sebulan. Dia sangat sibuk, dan Ibu juga punya dunianya sendiri. Aku masih bertahan bersama Amar, tapi aku semakin melihat Ayah tampak pucat dan jiwa-jiwanya mati. Dia sudah jarang membaca, bahkan tidak kulihat buku-buku baru di kamar atau ruang kerjanya.
Baru ketika aku menemukan Ayah yang terlilit tali anjing, si Doberman menarik-narik bajuku dengan gigi-gigi tajamnya. Dua setengah tahun lalu, aku baru saja selesai mengikuti lomba melukis, dan memiliki mendali perak untuk kutunjukan pada Ayah. Si Doberman berlari ke arahku dengan cepat, dan menunjukanku kehidupan yang betakhir dengan tarikan napas yang tersendat-sendat. Aku masuk ke kamar Ayah yang tidak terkunci, lalu menemukan ketidakberdayaannya pada hidupnya sendiri. Aku hampir pingsan, lututku gemetar, dan mulutku tercekat untuk berteriak memanggil Ibu, Amar atau Om Tio.
Aku tidak sanggup menolong Ayah, dan justru luruh ke lantai sambil terisak-isak saat napas Ayah masih menyenggal-nyenggal untuk diselamatkan. Aku tidak tahu kenapa aku hanya menatap tubuh Ayah yang berputar dengan miris, dengan matanya yang melebar sambil menatapku menangis. Wajahnya pucat, dan matanya sembab. Lalu aku menyadari terlalu banyak hal, termasuk depresi Ayah. Pak Han, dokter jiwa yang menanganiku, juga sempat bertemu dengan Ayah untuk konsultasi beberapa waktu sebelum Ayah memutuskan kematiannya. Itulah alasan Pak Han begitu setia mendampingiku, karena rasa bersalahnya atas kegagalannya menyembuhkan Ayah.
Malam mengerikan dengan lautan derita saat itu, Pak Han ada di sana juga. Aku menelepon Pak Han sebelum aku memutuskan untuk keluar dari kamar dan melihat siapa yang datang malam itu. Aku tak menyangka Pak Han akan benar-benar datang di malam yang dingin dan mencekam itu. Aku mendengar ceritanya dari Ibu, Pak Han yang menyelamatkan aku dari pria-pria itu. Pak Han dan Amar yang saat itu bergelut untuk menangkap pria-pria itu, berhasil mendapatkan Om Tio. Dan Pak Han terluka parah, dan yang aku tahu sampai sekarang, luka itu menjadi luka jangka panjang, sampai menyerang paru-paru Pak Han. Aku berterima kasih padanya, juga pada Hara. Dua laki-laki itu menjadi malaikatku.