Surakarta, 1998
Andri tidak pernah menyadari bahwa masa kuliahnya akan menjadi kenangan paling indah sekaligus menyesakkan dalam hidupnya. Dia laki-laki dari keluarga berada, memang sejak lahir hidup berkecukupan. Sementara, Tio adalah sahabat karibnya, laki-laki jangkung yang ramah dan sering bertingkah. Mereka bersahabat sejak menjadi mahasiswa baru jurusan sastra di Universitas Sebelas Maret.
Hari itu, cuaca panas membakar para mahasiswa yang tengah melakukan aksi demonstrasi serentak di seluruh negeri. Tahun 1998 tentu adalah bagian dari sejarah penting bagi Indonesia, bahkan tercatat dalam buku pelajaran di sekolah. Andri bertemu dengan Marina ketika sedang berada di situasi itu. Mereka berkenalan sebagai sesama mahasiswa semester akhir.
"Lari, Ndri, ada aparat!" Tio menyeru dengan kepanikan yang menyeret kakinya untuk bergegas ke tempat yang aman. "Lo tahu, ini bahaya cepetan!"
Marina yang memiliki senyum berlesung pipi, dan mata bening yang berkilau membuat Tio tidak sadar telah menarik tangannya. "Ayo," teriaknya pada rekan-rekan aktivisnya.
Dalam keadaan mencekam, Andri berhasil bersembunyi. Tio dan Marina berada di tempat yang aman. Tio tidak tahu perasaan apa yang berdesir, dan kegugupan apa yang diarasakan. Marina tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih padanya ketika keadaan menjadi lebih aman. Tidak ada yang Tio lakukan, selain hanya memandangi punggung perempuan itu berjalan menjauhinya. Laki-laki itu hanya menyimpan detak jantungnya untuk dirinya sendiri.
"Aku suka sama dia," ujar Andri pada Tio setelah beberapa hari saling berkomunikasi melalui surat. Andri memiliki logat Solo yang khas, medhok. Karena memang lahir dan besar di kota budaya itu. "Aku rasa, dia juga suka denganku. Ini buktinya, Marina selalu membalas surat-surat yang kukirim meskipun terlambat atau harus kuberi surat berikutnya baru dibalas."
Tio yang duduk sambil merokok itu hanya tersenyum, lalu mengangguk. Laki-laki Betawi yang jauh merantau itu membuang putung rokoknya setelah selesai pada hisapan terakhir dan menyembulkan asap di udara. "Kawini saja kalau suka!"
"Menikah bukan perkara yang seremeh itu, Yo." Andri menatap sahabatnya. "Aku mau lanjut S2 dulu."
"Jadi lo enak ya, Ndri." Tio menginjak-injak putung rokok yang dia buang tadi sampai padam. "Punya orang tua yang mendukung."
Andri tahu bagaimana Tio merantau setelah kedua orangtuanya berpisah karena kekerasan dalam rumah tangga. Itu juga yang menjadikan Tio adalah orang yang ingin Andri jaga, sebagai teman baik, sebagai yang sudah ia anggap saudara. Sudah empat tahun mereka saling mengenal, dan Tio hampir lupa asal usulnya selain ucapan kasar dan logat Betawinya yang masih tertinggal.
"Lo tahu, Ndri," kata Tio yang menatap Andri lalu berpindah ke gelas milik Andri. "Marina .... cantik."
Tio gagal mengucapkan hal paling penting baginya, bahwa dia dan Marina telah menjalin hubungan melebihi yang Andri lakukan. Menatap mata Andri yang berapi-api, Tio mundur. "Cepet kawin, atau gue tikung!"
Andri hanya tertawa ringan melepas kepergian Tio dari warung kopi tanpa tahu apa yang ada di balik kepergian kawannya itu. Lalu Andri menyadarinya ketika dia menerima bahwa Tio dipanggil polisi karena menjadi salah satu garda depan dalam aksi mahasiswa di Solo Raya tempo waktu lalu. Tidak ada nama Andri atau Marina disebutkan.