Pada sore keesokan harinya, Hara mendatangiku. Hara selalu datang ketika sore, karena dia harus menyelesaikan kelas dan tugas-tugas kuliahnya sebelum menemuiku. Dia membawa bunga layaknya seorang laki-laki yang menjenguk kekasihnya yang sakit. Dia melupakan fakta sakit yang dialami kekasihnya adalah penyakit mental. Tapi, Hara tetap datang dengan tersenyum, menyuguhkan keseriusan yang terkemas rapi dalam sederhana yang menenangkan.
"Sedang apa?" tanyanya sembari meletakan bunga itu pada vas di atas meja, lalu menghampiriku.
"Sedang diam."
Hara terkekeh ringan lalu duduk di sampingku. "Aku punya kejutan," katanya lalu menyodorkan sebuah bingkisan.
Kotak berukuran tak lebih lebar dari buku itu kubuka dengan hati-hati karena pitanya terlalu cantik. Lalu, aku menemukan sebuah wajah yang samar-samar membayangiku. Ayah dan aku yang masih berusia sepuluh tahun, ketika dunia masih baik-baik saja. Sebuah foto yang bingkainya sudah kuinjak-injak sampai berdarah-darah. Sepertinya diperbaiki olehnya. Hara segera merentangkan tangannya di bahuku begitu melihat aku gemetar.
"Kamu nggak apa-apa?"
Aku mengangguk dan memang karena ada Hara aku cukup bisa menguasai diriku untuk sementara waktu.
"Dari mana benda ini?" Aku menatap Hara dengan mengais-ngais sisa kendali atas diriku sebelum kisah usang mengenai Ayah menggelayutiku lagi. "Ini hadiah ulang tahunku dulu."
"Itu foto berhargamu bersama ayahmu, jadi Amar menyimpannya dan ingin aku memberikan ini padamu." Aku melihat wajah Hara sangat berhati-hati ketika menyebut Amar. "Kamu mau menyimpannya?"
Hara mengambil bingkai foto itu setelah aku mengangguk. Dia memajangnya di samping vas bunga yang berisi mawar-mawar segar berwarna putih, bunga kesukaanku dan Ayah.
"Mau jalan-jalan di taman? Udaranya sedang bagus, loh."
"Tidak mau, aku mau melukis."
"Hmm, pohon bungur di taman sana udah penuh kelopak bunga merah muda cantik, loh." Hara berseru dengan semangat. "Kamu nggak mau lihat bunga bungur? Tempat pertama kita menjadi teman."
"Tidak mau." Bohongku karena aku begitu suka melihat wajah Hara ketika sedang membujuk, dia manis. "Kamu saja yang pergi sana."
"Ada teman-temanku di sana." Hara berkata sekenanya lalu menatapku penuh memohon. "Kamu udah janji mau ketemu mereka, kan? Mereka udah menyiapkan kejutan, loh."
"Apa?" Aku keheranan, tapi Hara tetap pada semangatnya untuk membawaku keluar ke taman di sore yang cerah.
"Ikut aja, ya?"
Tidak ada jawaban dariku, jadi Hara segera memakaikan kardiganku lalu menarikku ke taman rumah sakit jiwa yang begitu meriuh.
Di bawah pohon bungur yang tingginya sudah hampir lima meter, dengan ranting-ranting yang menumbuhkan bunga, dua laki-laki dan satu perempuan duduk di bangku taman. Bunga bungur merah muda berguguran, beberapa terbang oleh angin saat aku sampai. Hara tersenyum begitu pula teman-temannya, tapi tidak denganku.