Aroma wangi dari lantai yang baru saja dipel menyeruak di udara pengap. Lorong gelap itu dihiasi dengan tralis besi tebal di kanan kirinya yang berisi narapidana baru, yang kasusnya belum diselesaikan atau nasibnya belum ditentukan oleh hakim. Mereka duduk sambil melongo, menikmati rasa dingin dan hampa yang menikam sadar mereka. Ada yang tatapannya serupa matahari siang yang begitu menyala, dan ada pula yang tatapannya penuh takzim seolah telah menobatkan diri pada Tuhannya dan mengakui segala kekhilafan dunia.
Dua sipir mengantar Marina menuju tempat yang biasa digunakan untuk menemui tahanan. Di sana, duduk seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, tengah tersenyum dari balik tralis yang membatasi interaksi. Marina duduk dengan meluruhkan segala yang membuat matanya basah. Meski, hari itu matanya masih terus dialiri sungai yang tak bermuara sehingga tak pernah berhenti, Marina tetap menatap Tio yang bertambah tua.
"Kamu terlihat sehat," kata Marina ragu-ragu menatap mata lelaki yang dulu penuh dengan binar cemerlang. "Mungkin kamu tidak pernah memikirkan bagaimana keadaan orang lain karena kamu tidak tahu apa-apa di dalam penjara."
Marina mengangkat sudut bibirnya, tersenyum tipis dan penuh sinis. "Kamu bahkan masih bisa tersenyum mendengar aku akan menemuimu," katanya lalu menyeka matanya.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Meski rambut Tio dipenuhi uban, dan wajahnya sudah berkerut-kerut tak beraturan, tapi lelaki itu hanya mencintai satu wanita di sisa hidupnya yaitu Marina. "Ada apa? Katakan sesuatu?!"
Dengan tarikan napas yang penuh sesak di setiap helaannya, Marina mengatur diri sedemikian berani lalu mengatakan, "Bagaimana perasaanmu setelah insiden dua tahun lalu?"
"Aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak bersalah, kan?" Tio menyalak, wajahnya berubah menjadi kemerahan. "Kamu pikir aku senang Andri mati dengan cara bodoh begitu? Kamu yang memberitahu dia tentang kita, lalu kamu menyalahkan aku?"
"Aku tahu aku yang salah atas semua hal," lirih Marina. "Tapi, aku datang untuk memberitahukan kebenaran."
"Aku merindukanmu, Marina. Kamu tidak pernah datang ke sini selama dua tahun terakhir." Tio hampir melesatkan senyum lagi, tapi Marina lebih cepat menuangkan garam di atas matanya. "Kenapa? Ada apa? Anak perempuan Andri itu masih gila? Dia menyusahkanmu?!"
"Billa Arawinda bukan putri Andri, tapi dia putrimu." Marina menyeka matanya, lalu bangkit dari berdirinya. "Silakan mendekam di penjara karena rasa berasalahmu. Aku ingin kamu mati karena rasa bersalah yang sama sepertiku, Tio!"
Marina segera melarikan diri dari kondisi paling berdarah yang dia hadapi itu. Sementara, Tio benar-benar terhantam badai kenyataan yang menderu seluruh isi dalam dirinya. Dia sekarang bagaikan cangkang yang hidup tanpa isi karena seluruh isi dalam jiwanya remuk redam tak bersisa.
Mengetahui bahwa putri cantik yang bagaikan malaikat yang ketika kecil selalu dia puji lukisannya itu, terluka jiwanya karena ulah egonya sendiri. Tio luruh di antara duduknya, mengais sisa-sisa napasnya. Lalu benar-benar hanya hidup sebagai sebuah cangkang lelaki tua penuh penyesalan