Larasuka

Sarah lufiana
Chapter #35

Aku: Perempuan Gila yang Jatuh Cinta

Aku tidak pernah melupakan upaya-upaya untuk mati. Hampir setiap detik aku memikirkan kemungkinan pria-pria itu akan datang, menyinggahi hari besarku. Tapi, Hara melingkarkan tangannya ke pundakku lalu tersenyum untuk meniadakan kegelisahan yang merambat diseluk sunyi. Laki-laki itu selalu bersamaku setelah dunia begitu kejam mencampakkan perempuan sakit sepertiku.

Hari ini akan menjadi hari besar. Dua tahun hidup mencari kesembuhan, akhirnya aku menemukan setitik terang. Dulu sekali, Ayah selalu merencanakan hari besar ini untukku, katanya aku akan menjadi pelukis hebat. Tanpa Ayah, aku tidak memahami definisi hebat itu seperti apa. Mungkin seperti Beethoven yang kehilangan pendengarannya, tapi dia tetap menjadi musisi hebat. Balerina yang kehilangan kakinya, dan dia tetap seorang penari anggun meski berhenti menari. Dunia tampak tak adil untuk semua orang, karena setiap orang tidak memberikan keadilan untuk diri mereka sendiri, yaitu penerimaan apa adanya. Aku belajar banyak dari itu.

Aku, Perempuan Gila yang Jatuh Cinta. Tulisan itu terlihat di dinding utama, di pintu masuk, dan di semua brosur dan katalok yang berisi karyaku. Tema itu untuk Hara. Dia yang menjadi inspirasiku untuk karya-karya besarku. Rasa gila yang menggerogotiku, dan rasa jatuh cinta yang asing dan misterius telah membuat semuanya berjalan sejauh ini. Aku yang kupikir sudah lama gila, rupanya masih bisa merasakan apa itu cinta. Hara Runashankara.

Hara berdiri di sampingku dengan setelan jas yang membuatnya tampak menawan. Tak pernah kusadari bahwa Hara begitu tampan dengan senyum tersuguh penuh harapan. Seperti perkataannya, harapan yang dipupuk pelan-pelan akan menumbuhkan nyata yang relevan. Laki-laki itu menggandeng tanganku di hari besarku ketika orang-orang mulai berdatangan. Ada Lea dan mamanya, juga Pak Han yang mendampingiku. Dokter Kamilia datang terlambat, dia membawa beberapa orang bersamanya Ibu dan ... Amar.

Aku merasakan tangan hangat Hara menggenggam kewarasanku, sehingga aku bisa menguasai napas-napas sesak yang mencoba mengembalikan ingatan buruk itu. Hara menatapku, lalu berkata, "Billa, kamu nggak apa-apa bertemu Amar?" tepat ketika aku melihat Amar dan Ibu hampir sampai, dan aku katakan aku baik-baik saja dengan mereka.

Amar masih tampak sama, yang membedakan hanya tatapan teduhnya berangsur meredup. Dia menatapku, tersenyum, lalu kaku di tempat. Hara mendampingiku saat aku bilang ingin bicara dengan Amar. Laki-laki itu mendongak, tampak terkejut ketika aku berdiri di hadapannya.

"Kakak?" kataku membuat mata teduh Amar membulat. "Haruskah aku memanggilmu begitu?"

Amar mengangguk, lalu bergumam selirih embusan angin, "Bagaimana kabarmu?"

Aku dan Amar adalah dua anak kecil yang tumbuh bersama di bangku taman dekat kolam ikan rumah lamaku. Kami adalah sepasang teman yang saling menopang karena kesepian dan ketidakberdayaan. Kami suka menghabiskan waktu untuk menghitung jumlah ikan koi milikku. Kami adalah sahabat di bangku sekolah. Kami sahabat yang berbagi segalanya bersama. Dan kami adalah kakak dan adik yang tidak disengaja, dan begitu menyengat nyata. Mata teduh Amar berkaca-kaca, kesedihannya seperti memelukku.

"Aku baik." Mencoba tersenyum adalah cara hidup yang Hara ajarkan, dan sulit kupahami, meski tetap kulakukan. "Aku punya beberapa lukisan untukmu. Lihatlah, aku melukismu di dekat Ayah."

Aku berhasil tersenyum lalu mengajak Hara meninggalkan Amar dan Ibu. Tidak mau menyapa Ibu meskipun terpaksa, karena padanya aku belum bisa menyembuhkan kecewa. Dahulu, Ayah selalu menyanjung Ibu ketika sedang membaca buku bersamaku. Ketika menemukan tokoh wanita yang memesona, Ayah lebih membela Ibu. Katanya dia begitu beruntung memiliki Ibu. Semua itu yang membuat lukaku atas perbuatan Ibu tak pernah bisa sembuh. Karena Ayah terlanjur pergi dengan cara yang tak termaafkan bagiku.

Pameran tunggal yang kuadakan ini menyiratkan segala kegilaan yang aku alami. Bersama Hara, aku menemukan sesuatu yang tak kucari, tapi kubutuhkan: cinta. Kupikir perempuan gila yang sudah terjamah sepertiku tak pantas untuk jatuh cinta atau dicintai. Hara memberi yakin yang benar-benar memilin sadarku. Bahwa aku tetap seseorang, bahwa aku tetap perempuan. Aku bisa menerima kehidupan yang serba bangsat ini dalam senyuman nanar paling memilukan. Hara ada bersamaku, jadi aku akan baik-baik saja.

Orang-orang menikmati lukisan berdarahku, tapi aku tidak mengizinkan mereka bertanya makna atau mencoba menyelami isi pikiranku lewat goresan cat itu. Aku bahkan tidak menerima wawancara jenis apa pun, untuk koran atau majalah, bahkan berita internet. Aku hanya ingin orang-orang melihat luka dan kengerian yang kuciptakan dari isi kepalaku, tanpa harus mereka tahu alasan di balik itu. Aku hanya suka karyaku dinikmati, dan mungkin mereka berspekulasi, yang kusuruh mereka menyimpan untuk diri mereka sendiri.

Lihat selengkapnya